Jawa Pos Radar Ngawi – Nama Joko Purnomo mendadak menjadi sorotan nasional.
Petani asal Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan, Ngawi, itu menjadi salah satu tamu khusus yang disapa langsung Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan, Jumat (14/8).
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur tersebut mendapat perhatian setelah dua dekade menekuni pertanian. Produktivitas sawahnya juga terbilang tinggi.
Joko mampu menanam dan memanen padi tiga kali setahun dengan hasil rata-rata mencapai 9 ton per hektare.
Momen namanya disebut langsung oleh kepala negara membuat pria kelahiran 1979 tersebut terharu.
Joko tak menyangka petani dari desa seperti dirinya bisa hadir dan mendapat perhatian di hadapan para pejabat tinggi negara.
Baca Juga: Kasus BMT MBS Syariah Jadi Sorotan, DPRD Madiun Dorong Pembinaan Koperasi
’’Namanya hal yang terbilang mustahil bagi orang desa seperti saya sampai di sini. Ya tentu merasa senang sekali, tapi juga bingung. Disebut langsung oleh Pak Presiden itu luar biasa,’’ ungkap Joko, Minggu (16/8).
Joko menyebut panen padi tiga kali dalam setahun sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi sebagian petani Ngawi. Salah satu kuncinya adalah ketersediaan air sepanjang tahun.
Keberadaan sumur submersible ditambah dukungan mekanisasi pertanian dari pemerintah membuat petani tetap dapat mengairi sawah saat musim kemarau.
’’Kalau di Ngawi, panen tiga kali sebetulnya bukan hal baru. Airnya melimpah karena didukung sumur submersible. Jadi di musim kering pun tidak ada kendala,’’ paparnya.
Selain air, Joko menilai kemudahan memperoleh pupuk bersubsidi turut menopang produktivitas.
Distribusi pupuk melalui kelompok tani disebut semakin membantu petani menekan ongkos produksi.
Menurut dia, harga pupuk bersubsidi jenis urea juga turun dari Rp 110 ribu menjadi Rp 90 ribu per zak.
’’Ini sangat membantu dan meringankan beban biaya produksi petani,’’ jelasnya.
Produktivitas tinggi bukan berarti lahan dapat terus dipaksa menghasilkan tanpa perawatan.
Baca Juga: Pertamina Diskon Pertamax Rp 450 per Liter 17–18 Agustus, Cek Syarat dan Kuota yang Berlaku
Joko menyebut sawah yang ditanami hingga tiga kali setahun membutuhkan keseimbangan nutrisi agar unsur hara tanah tetap terjaga.
Karena itu, penggunaan pupuk organik menjadi salah satu bagian penting dalam pola budidayanya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan program pertanian ramah lingkungan berkelanjutan (PRLB) yang dikembangkan di Kabupaten Ngawi.
’’Kalau hanya pakai kimia, tanahnya bisa rusak. Harus ditunjang pupuk organik buatan sendiri. Selain menyehatkan tanah, biaya produksi jadi jauh lebih murah dibanding bergantung pada pestisida pabrikan,’’ ujar Joko.
Bagi Joko, produktivitas tinggi perlu dibarengi kepastian harga hasil panen.
Dia menilai kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah Rp 6.500 per kilogram memberikan kepastian lebih besar bagi petani.
Kemudahan memperoleh pupuk dan terjaganya harga gabah disebut menjadi dua faktor yang sangat dirasakan petani.
’’Petani itu sebenarnya sederhana, harapannya hanya ingin 'diorangkan'. Sekarang pupuk mudah, dan yang paling penting harga gabah dijaga pemerintah sehingga tidak anjlok. Petani sekarang sangat senang,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto