Kayu Jati Langka, Produksi Parut Tradisional Ngawi Anjlok 75 Persen

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 14:40 WIB
TRADISIONAL: Perajin memproduksi parut berbahan kayu jati di Dusun Jambe Kidul, Desa Jambangan, Paron. Kelangkaan bahan baku membuat produksi merosot hingga 75 persen.
TRADISIONAL: Perajin memproduksi parut berbahan kayu jati di Dusun Jambe Kidul, Desa Jambangan, Paron. Kelangkaan bahan baku membuat produksi merosot hingga 75 persen.

Jawa Pos Radar Madiun – Industri kerajinan parut tradisional di Dusun Jambe Kidul, Desa Jambangan, Kecamatan Paron, menghadapi ancaman serius.

Kelangkaan bahan baku kayu jati membuat produksi salah satu perajin merosot hingga 75 persen dan berdampak pada pengurangan puluhan tenaga kerja lokal.

Jumani, 65, salah seorang perajin senior di Desa Jambangan, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan kayu jati untuk mempertahankan kapasitas produksi.

Padahal, permintaan parut tradisional buatannya masih cukup tinggi dari berbagai daerah.

’’Dulu sebulan bisa dua kali pengiriman dengan total 30 sampai 35 karung, sehari bisa buat hingga 200 unit. Kalau sekarang, sehari memproduksi 50 unit saja sudah ngoyo karena keterbatasan bahan baku,’’ kata Jumani, Senin (17/8).

Kondisi tersebut berimbas langsung terhadap tenaga kerja. Usaha yang telah dijalankan Jumani selama 41 tahun itu sebelumnya mampu melibatkan sekitar 50 pekerja.

Kini, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 15 orang. Mereka merupakan warga sekitar yang mengerjakan proses pembuatan parut dengan sistem pekerjaan dibawa ke rumah masing-masing.

Jumani membandingkan kondisi saat ini dengan masa ketika pasokan kayu jati masih melimpah.

Menurut dia, bahan baku kini semakin sulit diperoleh, bahkan hingga wilayah Bojonegoro.

Dia menilai perubahan pemanfaatan sebagian kawasan hutan yang kini ditanami komoditas seperti jagung dan tebu turut memengaruhi ketersediaan kayu jati bagi perajin.

’’Dulu kayu jati melimpah. Sekarang area hutan banyak yang diganti tanaman jagung dan tebu. Saya berharap pemerintah juga memikirkan nasib perajin kecil seperti kami. Seharusnya jangan semua dialihfungsikan, sisakan juga untuk kami yang menggantungkan hidup dari kayu jati,’’ ujarnya.

Kelangkaan bahan baku ditambah kenaikan biaya operasional membuat harga jual parut ikut terkerek.

Dari sebelumnya sekitar Rp 2.500, kini harga di tingkat perajin mencapai Rp 4.000 per unit.

Meski lebih mahal, Jumani menyebut permintaan terhadap parut berbahan kayu jati masih bertahan.

Produknya dipasarkan hingga Jakarta, Bogor, Klaten, sejumlah daerah di luar Jawa, bahkan Sumatra.

’’Konsumen banyak yang mencari parut kayu jati karena lebih awet dan kawatnya tidak mudah berkarat. Selain itu, masakan atau santannya dipercaya lebih sedap dibanding menggunakan mesin,’’ jelasnya.

Kelangkaan kayu jati kini menjadi penentu kelangsungan usaha tersebut.

Jumani mengaku tidak memiliki banyak pilihan apabila pasokan bahan baku benar-benar terhenti. 

Setelah lebih dari empat dekade menjadi perajin, dia terpaksa meninggalkan usaha tersebut dan kembali bekerja sebagai buruh tani.(magang:silvayudiaazizah-nurulnikmatulromadhona/sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
parut tradisional Ngawi perajin parut Jambangan kerajinan kayu jati kayu jati ngawi ngawi