Ngawi Siaga Karhutla hingga November, 91 Desa Berada di Kawasan Hutan

Asep Syaeful • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 03:45 WIB
APEL SIAGA: Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko memimpin apel kesiapsiagaan karhutla di kawasan Sengon Hills, Desa Girimulyo, Jogorogo, Kamis (20/8). BPBD NGAWI UNTUK JAWA POS RADAR NGAWI
APEL SIAGA: Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko memimpin apel kesiapsiagaan karhutla di kawasan Sengon Hills, Desa Girimulyo, Jogorogo, Kamis (20/8). BPBD NGAWI UNTUK JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kewaspadaan di Kabupaten Ngawi ditingkatkan.

Terlebih, 91 dari total 213 desa atau lebih dari 40 persen wilayah desa di kabupaten tersebut merupakan kawasan desa hutan.

Pemkab Ngawi pun menggelar apel kesiapsiagaan bencana karhutla di kawasan wisata Sengon Hills, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kamis (20/8).

Lokasinya sengaja dipilih karena berada di wilayah barat daya Ngawi yang berbatasan langsung dengan lereng Gunung Lawu.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan, pemindahan lokasi apel dari pusat kota ke kawasan rawan bukan tanpa alasan.

Langkah tersebut dilakukan agar personel yang terlibat memahami langsung karakteristik medan yang berpotensi terdampak karhutla.

’’Agar benar-benar mengetahui medan daerah yang rawan karhutla,’’ kata Antok, sapaan Dwi Rianto Jatmiko.

Pemkab Ngawi telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla sejak 2 Juli hingga 30 November 2026.

Langkah antisipasi tersebut berkaca pada kebakaran hebat di lereng Gunung Lawu pada akhir 2023.

Selain itu, kejadian karhutla di sejumlah kawasan konservasi seperti Gunung Bromo dan Semeru turut menjadi perhatian.

’’Kewaspadaan penuh harus terus ditingkatkan,’’ ungkap Antok.

Penetapan status tersebut merupakan tindak lanjut Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Karhutla Jatim selama 133 hari sejak 26 Mei 2026.

Pemkab kemudian menindaklanjutinya melalui Keputusan Bupati Ngawi Nomor 100.3.3.2/216-404-101-2-B/2026.

Kesiapsiagaan penanganan bencana di Ngawi menggunakan konsep pentahelix.

Penanganan melibatkan TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Perhutani, akademisi, media massa, dunia usaha, hingga 26 kelompok organisasi relawan.

Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mitigasi karhutla. Terutama warga yang tinggal di kawasan tepi hutan.

Pasalnya, dari total 213 desa di Kabupaten Ngawi, sebanyak 91 desa atau lebih dari 40 persen merupakan kawasan desa hutan.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan petugas.

’’Menjaga kelestarian serta kondusivitas wilayah hutan menjadi kunci utama agar manfaat kelestarian alam dapat diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang,’’ ujarnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
karhutla BPBD Ngawi ngawi gunung lawu