Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia, MMD UB Kenalkan MOL Bonggol Pisang dan Lele untuk Pulihkan Lahan

Asep Syaeful • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:33 WIB
MMD UB Kelompok 46 mengenalkan MOL bonggol pisang dan ikan lele kepada petani Sirigan untuk membantu pemulihan tanah dan menekan biaya pupuk.
MMD UB Kelompok 46 mengenalkan MOL bonggol pisang dan ikan lele kepada petani Sirigan untuk membantu pemulihan tanah dan menekan biaya pupuk.

Jawa Pos Radar Madiun – Ketergantungan terhadap pupuk kimia menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani di Desa Sirigan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

Selain harga yang semakin mahal dan pasokan yang terkadang terbatas, pemakaian pupuk kimia secara terus-menerus juga dikhawatirkan memengaruhi kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Persoalan itu mendorong Kelompok 46 Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya (MMD UB) mengenalkan alternatif pemulihan lahan melalui pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) berbahan bonggol pisang dan ikan lele.

Edukasi pembuatan pupuk organik berbasis asam amino tersebut digelar di Desa Sirigan, Kamis (30/7). Program Teknologi Tepat Guna (TTG) itu merupakan kolaborasi mahasiswa dengan Pemerintah Desa Sirigan.

Sasarannya adalah petani dari tiga dusun, yakni Sirigan, Melok Kulon, dan Melok Wetan.

Mereka dibekali pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan organik di sekitar lingkungan menjadi alternatif pendukung kesuburan lahan yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Menang Dramatis, SMKN 2 Boyolangu ke Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-West

Manfaatkan Potensi Limbah Organik

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi sekaligus demonstrasi pembuatan pupuk menggunakan ikan lele dan bonggol pisang. Peserta diperkenalkan mulai tahap persiapan bahan hingga proses fermentasi.

Potensi bahan organik tersebut selama ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, pemanfaatannya diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Petani pun terlibat aktif dalam sesi demonstrasi. Sejumlah pertanyaan mengenai proses pembuatan hingga cara pengaplikasian pupuk pada lahan pertanian muncul selama kegiatan.

Dosen Pembimbing Lapangan MMD Kelompok 46, Adi Setiawan, S.P., M.P., Ph.D., turut mendampingi kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Desa Sirigan serta unsur Forkopimcam Paron.

MMD UB Kelompok 46 mengenalkan MOL bonggol pisang dan ikan lele kepada petani Sirigan untuk membantu pemulihan tanah dan menekan biaya pupuk.
MMD UB Kelompok 46 mengenalkan MOL bonggol pisang dan ikan lele kepada petani Sirigan untuk membantu pemulihan tanah dan menekan biaya pupuk.

Dorong Pemulihan Lahan Petani

Ketua Pelaksana MMD Kelompok 46 Putra Setya Adhi Wirawan mengatakan, program tersebut tidak sekadar mengenalkan cara membuat pupuk alternatif.

Lebih jauh, pemanfaatan MOL bonggol pisang dan ikan lele diarahkan untuk membantu pemulihan kondisi lahan pertanian.

Menurut dia, pemanfaatan MOL diharapkan mampu mendukung kesehatan struktur fisik dan biologi tanah sawah.

Di saat bersamaan, inovasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi di tingkat hulu dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis.

Program tersebut diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap produktivitas pertanian masyarakat Desa Sirigan.

Terlebih, teknologi yang diperkenalkan menggunakan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Tak berhenti pada edukasi. Perwakilan kelompok tani juga mendapatkan bantuan alat dan bahan pembuatan MOL untuk dipraktikkan secara mandiri. Mereka diharapkan menjadi percontohan bagi anggota kelompok tani lainnya.

Pematang Sawah Didorong Lebih Produktif

Pendekatan pertanian terintegrasi turut dikenalkan dalam program tersebut. MMD UB membagikan bibit cabai dan tomat kepada petani untuk mendorong pemanfaatan pematang sawah yang selama ini belum optimal.

Tanaman tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga sehingga ikut membantu menekan pengeluaran dapur petani.

Melalui kombinasi pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dan optimalisasi pematang sawah, MMD UB ingin mendorong pola pertanian yang lebih efisien sekaligus memperhatikan keberlanjutan agroekosistem.

Program edukasi tersebut menjadi salah satu kegiatan unggulan Kelompok 46 MMD UB selama menjalankan pengabdian di Desa Sirigan. Pendampingan diharapkan dapat terus berlanjut bersama Pemerintah Desa Sirigan sehingga teknologi yang dikenalkan tidak berhenti setelah program mahasiswa berakhir. (*)

Editor : Mizan Ahsani
pemulihan lahan pertanian pupuk kimia universitas brawijaya ngawi