Jawa Pos Radar Madiun – Menurunnya kesuburan tanah hingga ketergantungan terhadap pupuk kimia menjadi tantangan yang mulai dirasakan petani Desa Jeblogan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.
Persoalan tersebut mendorong MMD 45 UB mengenalkan Complex Rice System (CRS) sebagai salah satu pendekatan menuju pertanian berkelanjutan.
Edukasi tersebut dikemas melalui program Sawah Harmonis Berbasis Agroekologi dan Teknologi (SAHABAT) yang digelar Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 45 di Balai Desa Jeblogan, Senin (31/8).
Sebanyak 31 peserta dari kelompok tani dan masyarakat setempat terlibat. MMD 45 UB menggandeng Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Ludianto serta dosen Universitas Brawijaya untuk mendekatkan pendekatan akademis dengan persoalan yang benar-benar dihadapi petani.
Sawah Bukan Sekadar Tempat Menanam Padi
Materi utama disampaikan Adi Setiawan, S.P., M.P., Ph.D. Dia memperkenalkan Complex Rice System sebagai konsep pertanian terpadu yang memandang sawah sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar tempat menghasilkan padi.
Pendekatan tersebut mengoptimalkan lahan melalui integrasi berbagai komponen budidaya. Tujuannya meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, menjaga keseimbangan ekosistem, memperbaiki kualitas tanah, serta mempertahankan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
“Complex Rice System pada dasarnya mengajak petani untuk melihat sawah bukan hanya sebagai tempat menanam padi, tetapi sebagai satu ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya. Ketika tanah sehat, biaya produksi bisa ditekan dan hasil panen justru lebih stabil dari tahun ke tahun,” jelas Adi.
Menurut dia, pendekatan tersebut memang bukan solusi yang memberikan hasil secara instan. Konsistensi menjadi kunci agar manfaat perbaikan ekosistem sawah dapat dirasakan petani dalam jangka panjang.
“Ini bukan solusi instan, tetapi jika diterapkan secara konsisten, dampaknya akan sangat dirasakan petani dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Baca Juga: Klasemen Akhir Kejuaraan Voli Putri Asia 2026 Grup B: Indonesia Tantang Iran di Perempat Final
Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia Secara Bertahap
Dalam penerapannya, CRS turut mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan penggunaan bahan kimia secara bertahap. Perbaikan kualitas tanah ditempatkan sebagai salah satu fondasi menjaga produktivitas lahan.
Adi menekankan keterlibatan petani sejak awal menjadi faktor penting. Sebab, konsep tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik dan persoalan masing-masing lahan pertanian.
“Kami tidak ingin sekadar memberikan teori. Kami ingin petani di Jeblogan benar-benar memahami dan mempraktikkan konsep ini sesuai kondisi lahan mereka sendiri, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan,” terangnya.
Diskusi pun berlangsung aktif. Petani menyampaikan sejumlah persoalan, mulai penurunan produktivitas sawah, pengelolaan unsur hara, hingga strategi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Ketua Kelompok Tani Dusun Jeblogan Pujianto mengungkapkan kondisi tanah menjadi persoalan yang mulai dirasakan petani. Tanah yang semakin keras dibarengi hasil panen yang dinilai tidak lagi maksimal.
“Materi yang disampaikan sangat bermanfaat dan sesuai dengan kondisi yang kami alami. Selama ini kami memang merasakan tanah semakin keras dan hasil panen tidak lagi maksimal,” ungkap Pujianto.
Menurut dia, pemaparan mengenai Complex Rice System memberikan perspektif baru bagi petani bahwa pemulihan kondisi tanah perlu menjadi prioritas.
“Penjelasan mengenai Complex Rice System memberikan wawasan baru bahwa memperbaiki kondisi tanah harus menjadi prioritas agar produktivitas pertanian tetap terjaga. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut,” imbuhnya.
Praktik Membuat MOL Bonggol Pisang
Tak berhenti pada teori, petani juga diajak mempraktikkan pembuatan MOL bonggol pisang di halaman Balai Desa Jeblogan. Bahan yang tersedia di lingkungan sekitar itu diolah menjadi pupuk organik cair pembenah tanah.
Petani diperkenalkan mulai proses pembuatan, fermentasi, penyimpanan, dosis, hingga cara pengaplikasiannya di lahan. MOL bonggol pisang diarahkan untuk mendukung aktivitas mikroorganisme dan memperbaiki kondisi tanah sebagai salah satu komponen pendukung penerapan CRS.
PPL Ludianto turut mengambil peran sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan program. Pendampingan PPL menjadi penghubung antara pengetahuan dari perguruan tinggi dan kondisi pertanian yang dihadapi masyarakat Desa Jeblogan.
Sebagai bentuk dukungan lanjutan, MMD 45 UB juga menyerahkan 800 bibit tanaman kepada masyarakat. Bibit didistribusikan kepada lima dusun melalui masing-masing kelompok tani untuk mendorong pemanfaatan lahan lebih produktif sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem pertanian.
Program SAHABAT melibatkan kolaborasi MMD 45 UB, dosen, PPL, Pemerintah Desa Jeblogan, dan kelompok tani. Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan edukasi dan praktik selesai.
Keberlanjutan pendampingan diperlukan agar pengetahuan mengenai Complex Rice System maupun MOL bonggol pisang dapat diterapkan sesuai kondisi pertanian setempat.
Melalui program tersebut, MMD 45 UB berharap Complex Rice System dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk menjaga produktivitas sekaligus memperbaiki kualitas sumber daya lahan. Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian berkelanjutan di Desa Jeblogan. (*)
Editor : Mizan Ahsani