Jawa Pos Radar Madiun – Kekeringan Ngawi semakin meluas. Sedikitnya 12 desa di lima kecamatan kini mengalami krisis air bersih dengan 627 kepala keluarga (KK) atau 1.627 jiwa terdampak.
Sebagian warga harus mengandalkan dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terbaru, Desa Gunungsari, Kecamatan Kasreman, masuk daftar wilayah terdampak.
Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Partoyo mengatakan, krisis air bersih saat ini tersebar di Kecamatan Pitu, Ngawi, Kasreman, Bringin, dan Karangjati.
’’Ada tambahan satu desa, Desa Gunungsari, Kecamatan Kasreman,’’ ujarnya, Rabu (26/8).
Selain Gunungsari, wilayah terdampak meliputi Desa Kenongorejo, Bringin, Suruh, Ngancar, Bangunrejo Lor, Cantel, Kiyonten, Karangtengah Prandon, Banyu Urip, Ngawi, dan Rejuno.
Baca Juga: Pemkab Pacitan Siapkan Pipanisasi, Tiga Kecamatan Rawan Kekeringan Disasar
Berdasarkan kaji cepat BPBD, krisis air bersih tersebut telah berdampak terhadap 627 KK atau 1.627 jiwa. Meluasnya wilayah terdampak otomatis meningkatkan kebutuhan penanganan selama kemarau.
Partoyo mengungkapkan, BPBD tidak memiliki pos anggaran khusus untuk penanganan kekeringan. Distribusi air selama ini menggunakan anggaran kebencanaan secara umum.
Karena itu, BPBD mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 150 juta untuk menopang kebutuhan penanganan.
’’Kalau anggaran khusus kekeringan itu tidak ada. Adanya anggaran umum untuk kebencanaan. Kemarin kami sudah mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 150 juta,’’ jelasnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih di Ngawi Meluas Jadi 11 Dusun, Ratusan KK Terdampak
Sembari menunggu tambahan anggaran, dropping air dilakukan secara bertahap. BPBD menggandeng Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP), PMI, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta komunitas relawan.
Warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih diminta segera melapor melalui pemerintah desa. Laporan selanjutnya diteruskan kepada BPBD agar kebutuhan air dapat segera ditindaklanjuti.
’’Seluruh warga terdampak kami minta segera berkoordinasi agar bisa langsung ditindaklanjuti dengan pengiriman air bersih. Bantuan air yang telah didistribusikan juga harus dimanfaatkan secara bijak,’’ pungkas Partoyo. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto