Waduk Pondok Surut Jadi Berkah, Petani Ngawi Garap 50 Hektare Lahan

Asep Syaeful • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20 WIB
PASANG SURUT: Petani memanfaatkan cerukan Waduk Pondok yang mengering untuk bercocok tanam. Sekitar 50 hektare lahan kini ditanami padi, jagung hingga kacang-kacangan. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI
PASANG SURUT: Petani memanfaatkan cerukan Waduk Pondok yang mengering untuk bercocok tanam. Sekitar 50 hektare lahan kini ditanami padi, jagung hingga kacang-kacangan. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Madiun – Susutnya debit air Waduk Pondok saat kemarau justru membawa berkah bagi petani sekitar. Cerukan waduk yang mengering dimanfaatkan menjadi lahan pertanian pasang surut untuk menanam berbagai komoditas pangan.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi mencatat, lahan pasang surut tersebut tersebar di lima desa sekitar Waduk Pondok. Yakni, Suruh, Dampit, Kenongorejo, Gandong, dan Sumberbening.

Kabid Tanaman Pangan DKPP Ngawi M. Hasan Zunairi mengatakan, luas lahan yang dimanfaatkan petani mencapai sekitar 50 hektare. Padi menjadi komoditas yang paling banyak dibudidayakan.

’’Disusul jagung, kacang tanah, dan aneka kacang dan umbi atau akabi,’’ kata Hasan, Rabu (26/8).

Baca Juga: Pemkab Ngawi Kirim 3 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT, Dikirim lewat Lanud Iswahjudi

Hasan menjelaskan, pola pertanian tersebut sangat bergantung pada kondisi debit Waduk Pondok. Petani baru bisa menggarap lahan ketika permukaan air menyusut dan cerukan waduk muncul.

Karena itu, aktivitas bercocok tanam bersifat kondisional dan mengikuti dinamika ketersediaan air waduk.

’’Pertanian di kawasan Waduk Pondok memang masuk pertanian pasang surut karena sifatnya kondisional. Begitu waduk surut, baru ada pertanaman. Luasnya sekitar 50-an hektare,’’ ungkapnya.

Dari luasan tersebut, sekitar 45 hektare dimanfaatkan untuk tanaman padi. Namun, produktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan sawah reguler.

’’Biasanya sekitar 4–4,5 ton per hektare,’’ jelas Hasan.

Baca Juga: Investor Hong Kong Jajaki Mini Kawasan Industri 100 Hektare di Ngawi

DKPP Ngawi turut menopang aktivitas pertanian di kawasan tersebut melalui bantuan benih. Lahan yang digarap juga masuk dalam pencatatan Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Ngawi.

Bantuan disalurkan melalui kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) yang menaungi para penggarap di sekitar waduk.

’’Seluruh petani di sekitar waduk yang menggarap lahan pasang surut ini dipastikan sudah terakomodasi di dalamnya,’’ pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
lahan pasang surut DKPP Ngawi tanaman padi Waduk Pondok