Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau membawa persoalan tahunan bagi warga di kawasan utara Kabupaten Ngawi.
Krisis air bersih di Bringin kembali melanda Dusun Nggagan, Desa Kenongorejo, serta Dusun Jatisuwak, Desa Suruh.
Sejak Juli lalu, ratusan kepala keluarga (KK) harus berjuang ekstra keras mendapatkan air bersih.
Sumur-sumur warga mengering seiring berlangsungnya musim kemarau.
Sucipto, 26, warga Dusun Nggagan, mengatakan persoalan tersebut berulang hampir setiap tahun. Memasuki puncak kemarau, sumber air praktis tidak lagi dapat diandalkan.
’’Setiap tahun pasti begini. Mulai Juni atau Juli sumur warga mulai kering. Agustus sampai Oktober, tidak ada air sama sekali,’’ kata Sucipto, kemarin (26/8).
Ketiadaan sumber air membuat warga bergantung pada dropping air bersih. Ketika pasokan bantuan belum datang, mereka terpaksa mencari sumber air hingga keluar desa.
’’Kalau pas tidak ada kiriman bantuan, warga terpaksa cari air ke mana-mana, bahkan sampai ke tetangga desa yang jaraknya kurang lebih 20 kilometer,’’ ujar Sucipto.
Menurut dia, bantuan air tangki memang sangat dibutuhkan. Namun, sifatnya masih menjadi solusi sementara karena kebutuhan air masyarakat cukup besar.
Satu tangki bantuan, misalnya, disebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 25 KK selama tiga hari.
’’Bantuan air satu tangki biasanya cuma bertahan tiga hari untuk sekitar 25 KK di lingkungan sini. Kami sangat butuh sumur bor,’’ ungkapnya.
Sucipto berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait menghadirkan solusi jangka panjang.
Salah satunya membangun sumur bor dalam yang dilengkapi jaringan distribusi menuju rumah-rumah warga.
Persoalan serupa dialami warga Dusun Jatisuwak, Desa Suruh. Nyami, 63, mengatakan kekeringan di Ngawi mulai dirasakan di lingkungannya sejak awal Agustus.
Sumur warga mengering, sementara sarana Pamsimas belum mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten.
’’Semua sumur kering, Pamsimas juga kadang mengalir kadang mati. Untuk mandi dan mencuci baju, warga terpaksa nyemplung ke sungai atau cari air di area persawahan,’’ kata Nyami.
Dusun Jatisuwak dihuni sekitar 200 KK. Di tengah keterbatasan sumber air, masyarakat kini sangat bergantung pada pasokan bantuan untuk kebutuhan vital seperti memasak dan minum.
’’Alhamdulillah sudah ada bantuan air,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto