Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) membayangi produksi padi musim tanam (MT) II di Kabupaten Ngawi.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi mengantisipasi potensi penurunan hasil panen meski hingga akhir Agustus belum menerima laporan gagal panen.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Ngawi M. Hasan Zunairi mengatakan, angka pasti produksi padi MT II belum dapat dihitung. Sebab, proses panen masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Selain itu, data resmi untuk periode Juli–Agustus juga belum seluruhnya rampung.
’’Angka pastinya belum terhitung, minimal masih berupa estimasi atau prediksi melihat fenomena lapangan seperti adanya serangan OPT dan cuaca kemarau,’’ ujar Hasan, Selasa (1/9).
Berdasarkan data DKPP Ngawi, realisasi luas tanam padi pada MT II 2026 mencapai 47.285 hektare.
Angka tersebut setara sekitar 95 persen dari luas baku sawah di Kabupaten Ngawi yang mencapai 49.577 hektare.
Realisasi tanam tersebut terdiri atas 10.045 hektare pada Mei, 9.080 hektare pada Juni, 14.542 hektare pada Juli, dan 13.618 hektare pada Agustus.
’’Dari luas baku sawah sekitar 49.577 hektare, yang tanam padi 47.285 hektare, lainnya memilih menanam tembakau, jagung maupun kacang tanah,’’ ujarnya.
Sementara itu, produksi padi Ngawi sepanjang semester pertama atau periode Januari–Juni 2026 tercatat mencapai 380.423 ton Gabah Kering Panen (GKP).
DKPP Ngawi terus memantau perkembangan di lapangan sekaligus melakukan pendampingan kepada petani.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan dampak serangan OPT maupun kekeringan terhadap tanaman padi.
Upaya antisipasi diperlukan agar potensi penurunan produksi padi MT II akibat kemarau dan gangguan hama dapat ditekan.
Terlebih, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu daerah dengan areal persawahan yang luas di Jawa Timur. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto