Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau membawa peluang bagi petani tembakau Ngawi.
Luas lahan tembakau tahun ini melonjak menjadi sekitar 2.000 hektare, bertambah 800 hektare dibandingkan estimasi awal tahun lalu yang mencapai 1.200 hektare.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Ngawi Sojo mengatakan, kondisi pertanaman tahun ini jauh lebih baik dibandingkan musim sebelumnya. Dia memperkirakan sekitar 1.800 hektare lahan tembakau dapat dipanen efektif.
Tahun lalu, dari estimasi awal 1.200 hektare, hanya sekitar separuh atau 600 hektare yang efektif dipanen.
Banjir dan luapan air waduk menjelang panen menyebabkan banyak tanaman rusak dan mati.
"Tahun lalu dari estimasi awal 1.200 hektare, yang efektif panen 50 persen atau sekitar 600 hektare. Banyak tanaman mati terendam banjir maupun luapan air waduk menjelang panen," kata Sojo, Sabtu (5/9).
Situasi berbeda terjadi pada musim tanam tahun ini. Kendala akibat cuaca maupun gangguan tanaman pada awal masa tanam, seperti tanaman kerdil dan keriting, disebut relatif minim dengan tingkat di bawah 25 persen.
Kondisi tersebut turut mendorong petani memperluas lahan tembakau. Sejumlah petani yang sebelumnya menghadapi risiko gagal panen padi juga mulai memilih komoditas tersebut ketika memasuki musim kemarau.
"Petani yang sebelumnya sering gagal panen padi kini mulai sadar dan beralih ke tembakau," ujarnya.
Menurut Sojo, lahan yang sudah lama tidak ditanami tembakau juga memiliki tingkat kesuburan yang cukup baik. Kondisi itu dinilai membantu menopang produktivitas tanaman pada musim ini.
Dengan luas lahan efektif panen sekitar 1.800 hektare, APTI Ngawi optimistis produksi tembakau daerah dapat mencapai sekitar 1.800 hingga 2.000 ton pada musim panen tahun ini.
"Kami berharap produksi bisa maksimal," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto