Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih meluas di Kabupaten Ngawi seiring puncak musim kemarau.
Hingga awal September 2026, BPBD Ngawi mencatat 18 dusun di 14 desa yang tersebar di enam kecamatan terdampak kekeringan.
Kondisi tersebut membuat intensitas dropping air bersih ditingkatkan. Setiap hari, sedikitnya empat armada truk tangki dikerahkan dengan total pasokan mencapai 24 ribu liter.
‘’Saat ini sudah masuk puncak kekeringan,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Yudha Herlambang, Minggu (6/9).
Empat armada tersebut tidak dikirim ke satu lokasi sekaligus. Distribusi dilakukan secara bergiliran menyesuaikan kebutuhan masyarakat di titik-titik krisis air bersih.
‘’Disalurkan ke titik-titik kekeringan secara bergantian,” ungkap Yudha.
Penanganan kekeringan Ngawi tidak hanya mengandalkan pasokan dari BPBD.
Bantuan juga datang dari Palang Merah Indonesia (PMI), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, lembaga sosial, partai politik, hingga komunitas masyarakat.
Banyaknya pihak yang terlibat membuat distribusi harus dikoordinasikan secara ketat.
Penjadwalan dilakukan agar bantuan tersebar merata dan tidak menumpuk di lokasi yang sama.
‘’Agar tidak terjadi dobel bantuan di satu titik, kami lakukan penjadwalan secara ketat,’’ ucapnya.
Sebaran kekeringan mencakup Kecamatan Bringin di Desa Kenongorejo, Bringin, dan Suruh.
Kemudian, Kecamatan Pitu meliputi Desa Ngancar, Bangunrejo Lor, Cantel, dan Selopuro.
Di Kecamatan Kasreman, krisis air bersih terjadi di Desa Kiyonten dan Gunungsari.
Sedangkan Kecamatan Ngawi meliputi Desa Karang Tengah Prandon, Banyuurip, dan Ngawi.
Wilayah terdampak lainnya berada di Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati, serta Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar.
Secara keseluruhan terdapat 14 desa di enam kecamatan yang masuk dalam penanganan dropping air bersih.
Hingga Selasa (1/9), bantuan telah menjangkau 685 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 1.789 jiwa.
‘’Per Selasa (1/9), dropping air bersih telah menyasar 685 KK (kepala keluarga) dengan 1.789 jiwa,’’ pungkas Yudha. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto