Jawa Pos Radar Madiun – Derit rakel menyapu tinta di atas kain katun terdengar berulang dari sebuah studio sablon di Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi.
Di tempat itulah Adi Baskoro mempertahankan teknik sablon manual di tengah teknologi cetak digital yang semakin berkembang.
Pemuda 27 tahun tersebut telah menekuni usaha sablon selama sekitar satu dekade.
Berawal dari keberanian menerima pesanan ketika belum memiliki peralatan, hasil produksinya kini bahkan telah menjangkau pasar luar negeri.
‘’Sudah sampai Singapura dan Taiwan,’’ kata Adi, Minggu (6/9).
Menariknya, pasar luar negeri tersebut tidak diperoleh melalui promosi besar-besaran di media sosial maupun marketplace.
Adi mengaku lebih banyak mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut.
Pelanggan yang puas dengan hasil produksinya kemudian merekomendasikan usaha sablon manual tersebut kepada jaringan mereka. Cara sederhana itu perlahan memperluas pasar yang dijangkaunya.
‘’Mulai buka 2016, mulai kirim ke luar negeri itu sekitar 2018," ungkapnya.
Perjalanan usaha Adi bermula ketika masih duduk di bangku kuliah pada 2016.
Seorang kawan kala itu datang membawa peluang berupa pesanan pembuatan 80 kaos.
Masalahnya, Adi belum mempunyai peralatan sablon sama sekali. Alih-alih melepas kesempatan, dia nekat menerima pesanan tersebut kemudian menyiapkan perlengkapan dan bahan yang dibutuhkan.
"Waktu itu belum punya perlengkapan sama sekali. Begitu pesanan masuk, baru semua peralatan dan bahan produksi disiapkan," kenangnya.
Pesanan perdana sebanyak 80 kaos tersebut diselesaikannya dalam empat hari.
Adi bahkan harus bekerja hingga larut malam demi memenuhi target penyelesaian.
‘’Setelah itu, banyak teman-teman yang pesan ke saya,’’ ujarnya.
Bertambahnya pesanan membuat Adi semakin serius mendalami teknik cetak saring.
Dia tetap mempertahankan sablon manual meski teknologi seperti direct to film (DTF) dan direct to garment (DTG) menawarkan proses produksi yang berbeda dan semakin mudah diakses.
Bagi Adi, hasil cetak manual mempunyai karakteristik yang membuatnya tetap bertahan dengan teknik tersebut.
“Belum ada yang bisa menandingi kualitas manual,” ujar Adi.
Menurut dia, tinta pada sablon manual dapat melekat kuat pada serat kain sehingga hasil cetaknya mampu bertahan dalam jangka panjang.
Ketahanan hasil produksi itu menjadi salah satu kualitas yang berusaha dijaganya.
‘’Cenderung rentan mengelupas atau pudar setelah melewati serangkaian proses pencucian dalam beberapa bulan,’’ terangnya saat membandingkannya dengan teknik digital.
Untuk menjaga standar produksi, Adi mendatangkan bahan kain dari pabrik di Bandung.
Konsumen dapat memilih jenis bahan dan warna sesuai kebutuhan maupun anggaran.
Dia juga memberikan layanan pembuatan rancangan visual bagi pelanggan yang belum memiliki desain.
Pasarnya kini mencakup instansi pemerintah, sekolah, komunitas otomotif hingga olahraga.
"Produksi saat ini 200 kaos per hari, pesanan dari instansi dinas, sekolah, hingga komunitas otomotif dan olahraga," terangnya. (Silva Yudia Azizah/sae/den)
Editor : Hengky Ristanto