Kemarau Picu Ancaman Karhutla di Ngawi, Perhutani Siagakan 160 Personel

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:00 WIB
RAWAN TERBAKAR: Sekitar 30 hektare kawasan hutan di wilayah Perhutani KPH Ngawi terdampak karhutla selama musim kemarau.
RAWAN TERBAKAR: Sekitar 30 hektare kawasan hutan di wilayah Perhutani KPH Ngawi terdampak karhutla selama musim kemarau.

Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Ngawi.

Perum Perhutani KPH Ngawi mencatat kawasan hutan yang terdampak kebakaran mencapai kisaran 30 hektare dan tersebar di sejumlah titik.

Administratur Perum Perhutani KPH Ngawi Muklisin mengatakan, karakteristik hutan jati membuat kawasan tersebut memiliki kerawanan tersendiri ketika kemarau.

Pohon jati menggugurkan daun sebagai salah satu mekanisme bertahan hidup saat ketersediaan air berkurang.

Masalahnya, guguran daun tersebut menumpuk dan mengering di lantai hutan.

Seresah jati itu menjadi material yang mudah tersulut dan mempercepat perambatan api ketika terjadi kebakaran.

’’Guguran daun kering atau seresah ini menjadi material yang sangat mudah terbakar,’’ ujar Muklisin, Senin (7/9).

Menurut dia, setidaknya terdapat tiga faktor yang memengaruhi terjadinya karhutla Ngawi.

Selain melimpahnya seresah kering, kondisi cuaca panas dengan kelembapan rendah meningkatkan kerawanan kebakaran.

Faktor lainnya adalah keberadaan sumber api. Pemicunya dapat berasal dari aktivitas manusia maupun penyebab lain.

’’Luas terdampak di Kabupaten Ngawi tidak lebih dari 30 hektare dan lokasinya tersebar di titik-titik kecil,’’ jelasnya.

Mengantisipasi munculnya titik api baru sekaligus mencegah kebakaran meluas, Perhutani KPH Ngawi menyiagakan Brigade Karhutla.

Sekitar 160 personel internal disiapkan untuk melakukan penanganan di lapangan.

Kekuatan tersebut masih ditambah ratusan anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pelibatan masyarakat sekitar hutan menjadi bagian dari upaya mempercepat respons ketika muncul indikasi kebakaran.

Langkah pencegahan juga dilakukan dengan membersihkan seresah secara terukur di sejumlah jalur strategis dan tepi jalan. Salah satunya diterapkan di kawasan Kedunggalar.

Pembersihan tersebut dilakukan untuk mengurangi material mudah terbakar di lokasi rawan.

Termasuk menekan risiko munculnya api akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Selain kesiapan personel dan mitigasi fisik, jajaran Perhutani di lapangan diminta menggencarkan sosialisasi pencegahan karhutla bersama forum koordinasi pimpinan kecamatan (forkopimcam).

’’Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat terus menekan potensi munculnya titik api baru selama puncak musim kemarau,’’ pungkas Muklisin. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
seresah jati Brigade Karhutla ngawi karhutla ngawi Perhutani KPH Ngawi