Jawa Pos Radar Madiun – Budidaya melon premium dengan sistem greenhouse semakin berkembang di Kabupaten Ngawi.
Saat ini, sekitar 100 greenhouse telah tersebar di sejumlah wilayah. Namun, kapasitas produksinya disebut belum mampu mengimbangi permintaan pasar modern.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan, melon premium hasil budidaya greenhouse memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar.
Komoditas tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu branding daerah sekaligus membuka peluang bisnis bagi petani milenial.
’’Di Ngawi total ada 100-an greenhouse dengan ukuran beragam, rata-rata 2–3 are. Produksinya memang banyak, tapi ketersediaannya tetap kurang untuk memenuhi permintaan pasar modern,’’ kata Ony saat memetik melon di greenhouse Desa Brubuh, Kecamatan Jogorogo, beberapa waktu lalu.
Potensi tersebut membuat Pemkab Ngawi berencana memfasilitasi pemasaran produk.
Salah satu gagasannya menyediakan ruang pamer atau display khusus melon premium di lokasi strategis.
Fasilitas itu diharapkan menjadi etalase produk petani milenial Ngawi sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai salah satu penghasil melon berkualitas.
’’Harapan petani milenial di Ngawi itu ada tempat display khusus melon premium. Jadi kalau ada tamu atau wisatawan datang ke Ngawi, kita bisa langsung tunjukkan produk unggulan greenhouse kita,’’ jelasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi mengatakan, budidaya melon dengan sistem greenhouse membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit. Namun, prospek ekonominya dinilai cukup menjanjikan.
Untuk membangun greenhouse berbahan baja ringan seluas sekitar 2 are atau 200 meter persegi, menurut Supardi, petani membutuhkan modal sekitar Rp70 juta. Greenhouse seluas itu mampu menampung sekitar 600 batang tanaman.
Biaya investasi lebih besar dibutuhkan apabila menggunakan konstruksi besi galvanis.
Nilainya dapat melampaui Rp100 juta, tetapi konstruksinya disebut memiliki usia pakai lebih panjang.
’’Investasinya memang terlihat besar di awal, tapi sangat menjanjikan karena konstruksinya awet. Menurut hitungan para petani, dalam enam kali masa tanam atau sekitar dua tahun, modal awal sudah bisa kembali,’’ terang Supardi, Rabu (9/9).
Dengan perhitungan tersebut, petani memperkirakan investasi pembangunan greenhouse dapat kembali setelah enam kali masa tanam.
Setelah periode pengembalian modal terlewati, biaya investasi awal tidak lagi menjadi komponen yang sama pada musim tanam berikutnya.
Selain memberikan kontrol budidaya yang lebih baik, greenhouse membantu melindungi tanaman dari paparan langsung kondisi cuaca.
Risiko budidaya pun dinilai lebih terkendali dibandingkan penanaman di lahan terbuka.
’’Sehingga tanam di musim apa pun risikonya lebih kecil dibandingkan dengan lahan terbuka,’’ ujarnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto