Jawa Pos Radar Madiun – Rencana pembangunan jalan menuju Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Ngawi 1 ikut terdampak keterbatasan fiskal daerah.
Anggaran yang semula dihitung membutuhkan Rp4,3 miliar kini hanya tersedia sekitar Rp3 miliar. Imbasnya, panjang jalan yang dibangun harus dipangkas.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Ngawi Maftuh Affandi mengatakan, penyesuaian sekitar Rp1,3 miliar tersebut dilakukan menyusul kondisi defisit anggaran daerah.
Dalam perencanaan awal, kebutuhan pembangunan jalan menuju SRT Ngawi 1 di Desa Karangtengah Prandon mencapai Rp4,3 miliar.
Anggaran itu diperhitungkan untuk pembangunan jalan sepanjang sekitar 900 meter berikut drainase.
’’Kebutuhan awal dalam perencanaan sebenarnya Rp4,3 miliar untuk panjang sekitar 900 meter plus drainase. Namun, karena kondisi defisit anggaran, saat ini anggaran yang tersedia sekitar Rp3 miliar,’’ terang Maftuh, Minggu (13/9).
Keterbatasan anggaran membuat DPRKP Ngawi memilih menyesuaikan volume pekerjaan.
Kendati demikian, spesifikasi struktur utama jalan disebut tetap dipertahankan.
Jalan direncanakan memiliki lebar sekitar 4–5 meter menggunakan konstruksi rigid beton.
Sedangkan panjang jalan yang sebelumnya dirancang sekitar 900 meter akan disesuaikan menjadi kisaran 500–750 meter.
Volume pembangunan drainase juga mengikuti kemampuan anggaran.
Maftuh mencontohkan, apabila jalan akhirnya dapat dibangun sepanjang 750 meter, drainase diproyeksikan sekitar 500 meter.
’’Kalau nanti panjang jalan 750 meter, drainasenya tetap 500 meter, karena menyesuaikan anggaran,’’ ujarnya.
Saat ini, pembangunan jalan menuju Sekolah Rakyat Terintegrasi masih menunggu kepastian dalam pembahasan Perubahan APBD Ngawi 2026.
DPRKP belum dapat memastikan volume final pekerjaan sebelum P-APBD ditetapkan.
Meski waktu pelaksanaan tersisa relatif singkat, Maftuh optimistis pembangunan jalan tersebut masih dapat diselesaikan sebelum tutup tahun anggaran.
Proses proyek ditargetkan mulai berjalan pada akhir September. Pemenang kontrak diharapkan sudah diperoleh pada awal Oktober sehingga pekerjaan konstruksi memiliki waktu sekitar dua bulan.
’’Proses ditargetkan mulai September akhir dan pemenang kontrak didapat awal Oktober. Pengerjaan rigid beton diperkirakan sekitar dua bulan. Waktu dua bulan sangat cukup untuk menyelesaikan proyek ini,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto