Unik! Warga Pelang Lor Ngawi Saling Lempar Ribuan Nasi, Pantang Marah Meski Kena Wajah

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:56 WIB
PANTANG MARAH: Warga saling melempar nasi saat tradisi perang nasi dalam rangkaian bersih desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jumat (11/9). ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI
PANTANG MARAH: Warga saling melempar nasi saat tradisi perang nasi dalam rangkaian bersih desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jumat (11/9). ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Madiun – Nasi bungkus biasanya menjadi hidangan yang disantap bersama saat sedekah bumi.

Namun, pemandangan berbeda tersaji di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

Ribuan nasi justru berubah menjadi ‘amunisi’ yang dilemparkan warga satu sama lain.

Tak ada yang boleh tersinggung. Apalagi marah dan menyimpan dendam meski lemparan nasi tepat mengenai wajah.

Begitulah aturan tak tertulis dalam tradisi perang nasi yang kembali digelar dalam rangkaian bersih desa, Jumat (11/9).

Tradisi turun-temurun tersebut rutin digelar setiap tahun setelah panen kedua.

Sebelum perang nasi dimulai, ribuan nasi bungkus lengkap dengan lauk dikumpulkan dan ditata di lokasi kegiatan.

Begitu aba-aba terdengar, puluhan warga langsung berhamburan menuju tumpukan nasi.

Bungkus-bungkus makanan itu kemudian beterbangan ke segala arah. Siapa pun yang berada di sekitar arena bisa menjadi sasaran.

Sidi Prayitno, salah seorang peserta, mengaku selalu antusias mengikuti tradisi perang nasi.

Menurut dia, aturannya sederhana. Tidak ada target tertentu yang harus dilempar, tetapi setiap peserta dilarang marah ataupun menyimpan dendam.

Bahkan sebelum tradisi dimulai, sejumlah warga telah bersiap dengan nasi di tangan.

Hanya dalam hitungan menit, area kegiatan dipenuhi nasi yang berserakan setelah digunakan untuk saling lempar.

’’Tradisi ini digelar rutin setiap tahun. Tidak ada yang marah, meskipun terkena lemparan di wajah. Yang dilempar nasi semua,’’ ujar Sidi.

Keunikan bersih desa Pelang Lor itu juga menjadi tontonan warga sekitar.

Sava Talia Putri dan Arvica Farajatus Balqis, misalnya, baru pertama kali menyaksikan tradisi tersebut secara langsung.

Keduanya mengaku terkesan lantaran tradisi sedekah bumi yang biasanya identik dengan makan bersama justru dikemas dalam bentuk perang nasi.

’’Biasanya saat bersih desa itu nasinya untuk makan-makan. Tapi di sini unik, nasinya buat perang-perangan,’’ tutur mereka.

Kepala Desa Pelang Lor Hariyana mengatakan, tradisi perang nasi merupakan bagian dari sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Bentuk tradisi itu ternyata telah mengalami perubahan seiring waktu.

Hariyana mengenang, ketika dirinya masih kecil, nasi yang tersedia dalam tradisi tersebut justru diperebutkan warga untuk dibawa pulang.

’’Dulu waktu saya kecil, nasi kami rebut dan kami bawa pulang. Saat ini masyarakat sudah tidak kekurangan makan, akhirnya digunakan untuk lempar-lemparan. Syarat utamanya tidak boleh marah,’’ kata Hariyana.

Meski sebagian besar digunakan untuk saling lempar, masih ada warga yang memperebutkan nasi untuk dibawa pulang. Sedangkan nasi yang tersisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Menurut Hariyana, perubahan cara pelaksanaan tidak menghilangkan nilai dasar tradisi.

Perang nasi Pelang Lor tetap dipertahankan sebagai warisan budaya sekaligus ruang mempererat hubungan antarmasyarakat.

’’Juga wadah silaturahmi warga, sekaligus atraksi budaya yang menghibur masyarakat luas,’’ pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
Desa Pelang Lor tradisi perang nasi ngawi sedekah bumi bersih desa