Jawa Pos Radar Madiun – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng utara Gunung Lawu, Kabupaten Ngawi, berhasil dipadamkan. Hasil penyisiran tim gabungan memastikan tidak ada lagi titik api di kawasan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Manyul maupun RPH Campurejo.
Posko penanganan karhutla di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, pun resmi dibongkar pada Minggu (20/9) malam.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Prila Yuda Putra mengatakan, pemadaman melibatkan sekitar 200 personel gabungan.
Selain melakukan pemadaman, petugas membuat ilaran atau sekat bakar untuk mencegah api merembet ke kawasan hutan lainnya.
Upaya tersebut turut didukung kondisi cuaca yang cenderung mendung selama proses penanganan kebakaran.
"Cuaca yang cenderung mendung, meski belum turun hujan, turut membantu menekan kecepatan perambatan api di area hutan," ujar Prila, Senin (21/9).
Menurut dia, hasil survei lapangan menunjukkan seluruh titik api di RPH Manyul dan RPH Campurejo telah padam.
Kondisi tersebut menjadi dasar penghentian operasional posko penanganan karhutla yang sebelumnya didirikan di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo.
Posko tersebut dibongkar pada Minggu (20/9) malam setelah tim gabungan memastikan tidak ditemukan lagi titik api di kawasan terdampak.
Kendati demikian, BPBD Ngawi menegaskan bahwa berakhirnya operasi pemadaman bukan berarti ancaman kebakaran hutan telah sepenuhnya hilang.
Pasalnya, wilayah lereng Gunung Lawu masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering berpotensi memudahkan api merambat apabila muncul sumber api baru.
Karena itu, petugas Perhutani, unsur relawan, serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) tetap disiagakan untuk memantau kondisi kawasan hutan.
Langkah tersebut dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api setelah operasi pemadaman selesai.
Prila juga meminta masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan hutan meningkatkan kewaspadaan. Terutama dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau.
"Warga sekitar lereng Gunung Lawu diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu timbulnya percikan api di area hutan," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto