Jawa Pos Radar Ngawi – Pemkab Ngawi bakal semakin kencang menarik rem belanja.
Setelah menghemat sekitar Rp 20 miliar tahun ini, efisiensi pada APBD 2027 ditargetkan mencapai Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar.
Pengetatan ditempuh untuk merespons keterbatasan fiskal sekaligus menutup defisit anggaran.
Belanja kegiatan organisasi perangkat daerah (OPD) yang dinilai kurang efisien mulai disisir.
Mulai makan dan minum (mamin), perjalanan dinas, kegiatan seremonial, hingga bimbingan teknis (bimtek).
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan, di tengah pengetatan tersebut, belanja prioritas tetap harus dipenuhi. Fokus diarahkan pada infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
’’Kami harus patuh pada mandatory spending di infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Fokusnya di situ dulu, itu yang harus dicukupi,’’ tegas Ony, Minggu (27/9).
Menurut Ony, efisiensi tahun ini telah menghasilkan sekitar Rp 20 miliar. Angkanya ditargetkan meningkat lebih dari dua kali lipat pada APBD 2027.
’’Kurang lebih ada Rp 20-an miliar yang kita scrap saat ini. Pada 2027 pengetatan akan dua kali lipatnya, sekitar Rp 40 sampai Rp 50 miliar,’’ ungkapnya.
Dana hasil efisiensi tersebut diarahkan untuk menutup defisit sekaligus menjaga likuiditas kas daerah pada awal tahun anggaran berikutnya.
Langkah itu diperlukan agar kebutuhan rutin, termasuk gaji pegawai dan operasional habis pakai, tetap dapat dipenuhi sebelum dana transfer dari pemerintah pusat masuk ke kas daerah.
Pengetatan juga menyasar penyelenggaraan bimtek. Ke depan, bimtek dibatasi untuk pengembangan jenjang karier aparatur sipil negara (ASN) dan dipusatkan melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).
Sementara pelatihan, peningkatan pemahaman teknis, maupun koordinasi lintas OPD diarahkan melalui rapat koordinasi (rakor) yang dipimpin sekretaris daerah.
Di tengah keterbatasan anggaran, OPD juga diminta merancang program yang mengandalkan partisipasi dan gotong royong masyarakat.
Salah satu skema yang disiapkan adalah perlombaan antardesa, seperti Desa Sehat, Desa Asri, hingga penanganan stunting.
’’Melalui perlombaan, basis programnya tetap jalan tanpa menghabiskan anggaran yang besar. Kuncinya pada partisipasi masyarakat yang besar, sementara pemerintah mengapresiasinya dengan memperbesar alokasi hadiahnya,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto