12 Perusahaan Asing Beroperasi di Ngawi, Serap 27 Ribu Pekerja

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 20:45 WIB
SERAP TENAGA KERJA: Aktivitas pekerja di salah satu perusahaan penanaman modal asing sektor alas kaki di Kabupaten Ngawi. ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI
SERAP TENAGA KERJA: Aktivitas pekerja di salah satu perusahaan penanaman modal asing sektor alas kaki di Kabupaten Ngawi. ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi – Investasi asing di Kabupaten Ngawi terus menggeliat. Hingga kini, tercatat 12 perusahaan penanaman modal asing (PMA) beroperasi dan menyerap sekitar 27 ribu pekerja. Mayoritas investornya berasal dari konsorsium pengusaha Korea Selatan, Tiongkok, dan Hong Kong.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan, masuknya investor baru banyak dipengaruhi rekomendasi pengusaha yang lebih dulu menanamkan modal di Ngawi. Pengalaman positif selama berinvestasi kemudian menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pengusaha.

’’Pengalaman positif investor yang sudah lebih dulu masuk menjadi promosi paling efektif untuk menarik minat investor baru,’’ terangnya, Senin (28/9).

Menurut Ony, kepercayaan investor ditopang kepastian hukum dan kemudahan perizinan. Pemkab mengawal proses investasi melalui Mal Pelayanan Publik (MPP), mulai pengurusan izin hingga perusahaan siap beroperasi.

Iklim daerah yang kondusif, aksesibilitas, serta ketersediaan tenaga kerja juga disebut menjadi pertimbangan investor.

’’Mayoritas PMA yang masuk bergerak di sektor padat karya seperti alas kaki, mainan, pelintingan rokok, tekstil, hingga karpet,’’ ujarnya.

Keberadaan industri tersebut sejauh ini telah menyerap sekitar 27 ribu pekerja. Ony memperkirakan jumlah tenaga kerja yang terserap masih berpotensi bertambah seiring perkembangan investasi.

’’Saat ini memang baru sekitar 27 ribu yang terserap. Kemungkinan akan terus bertambah,’’ katanya.

Ony menambahkan, meski upah minimum kabupaten (UMK) Ngawi berada di kisaran Rp 2,5 juta, pendapatan pekerja di sejumlah industri dapat mencapai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan setelah ditambah lembur, tunjangan keluarga, dan insentif lainnya.

Pertumbuhan industri padat karya juga dinilai ikut menggerakkan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Mulai usaha kuliner, warung makan, indekos, parkir, hingga berbagai jasa pendukung.

’’Perputaran ekonomi ikut meningkat karena konsumsi puluhan ribu pekerja tersebut,’’ pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
investasi asing ony anwar harsono pma kabupaten ngawi