Jawa Pos Radar Madiun – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng utara Gunung Lawu kian mengkhawatirkan.
Kobaran api di wilayah Desa Sumbersari, Kecamatan Sine, terus meluas hingga menjalar ke jalur alternatif Panjen. Titik api bahkan dilaporkan sudah sangat dekat dengan permukiman.
’’Api sudah sangat dekat dengan pemukiman warga,’’ kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Yudha Herlambang, Senin (5/10).
Potensi rembetan api ke rumah warga coba dicegah dengan menyiagakan petugas gabungan.
Satu unit mobil pemadam kebakaran dan satu armada tangki air dikerahkan untuk menyekat pergerakan api.
Upaya pemadaman juga terus dilakukan. BPBD bersama Damkarmat Satpol PP Ngawi, TNI, Polri, serta unsur lainnya bersiaga di titik penyekatan.
’’Kami bersama Damkarmat Satpol PP Ngawi, TNI, dan Polri, terus siaga di titik penyekatan agar api tidak merembet ke rumah-rumah penduduk,’’ ujar Yudha.
Petugas menghadapi medan sulit. Selain angin dan kondisi lereng yang terjal, sejumlah pohon pinus yang terbakar tumbang dan menutup akses jalan alternatif menuju Panjen.
Tim gabungan terpaksa memotong pohon-pohon yang terbakar maupun rawan roboh.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko api melompat ke seberang jalan sekaligus melindungi petugas dan relawan di lokasi.
’’Pohon-pohon pinus yang terbakar dan rawan roboh kami potong. Selain agar api tidak semakin melompat menyeberangi jalan, langkah ini juga dilakukan karena sangat membahayakan keselamatan petugas dan relawan yang bertaruh nyawa melakukan pemadaman di lokasi,’’ jelas Yudha.
Meluasnya karhutla berlangsung di tengah kondisi cuaca kering di Jawa Timur.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Tingkat Madya Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga Dasarian III September 2026, mayoritas wilayah Jawa Timur masuk kategori kemarau panjang hingga kemarau ekstrem panjang.
’’Memasuki awal Oktober 2026, kondisi atmosfer Jawa Timur masih dipengaruhi oleh El Niño dengan intensitas sangat kuat dan IOD (Indian Ocean Dipole) positif. Hal ini mengurangi suplai uap air dan membuat atmosfer relatif sangat kering,’’ papar Setiyaris.
Kondisi tersebut juga diperkuat Monsun Australia yang membawa aliran angin timuran berudara kering sehingga menekan pembentukan awan hujan.
BMKG mencatat suhu udara siang hari di Jawa Timur berkisar 31–37 derajat Celsius. Ngawi disebut berpotensi mengalami suhu tertinggi hingga 37 derajat Celsius.
’’Suhu tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Ngawi, yakni mencapai 37 derajat selsius. Meskipun potensi hujan konvektif secara sporadis masih ada akibat faktor lokal, cuaca terik dan angin kencang di Ngawi sangat memicu percepatan penyebaran karhutla,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto