Annisa Akromah Tegaskan Akhlak Cerminan Diri, Kutip Peribahasa Jawa Ajining Diri Dumunung ing Lathi

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 15:51 WIB
Annisa Akromah dari MTsN 10 Ngawi saat mengaitkan kearifan lokal Jawa dengan etika bermedia sosial pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 di Pendapa Wedya Graha, Ngawi, Senin (12/10).
Annisa Akromah dari MTsN 10 Ngawi saat mengaitkan kearifan lokal Jawa dengan etika bermedia sosial pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 di Pendapa Wedya Graha, Ngawi, Senin (12/10).

Jawa Pos Radar Madiun – Nilai-nilai kearifan lokal pada dasarnya selalu relevan untuk dijadikan pijakan etika, termasuk dalam menghadapi dinamika interaksi di ruang digital masa kini.

​Relevansi falsafah Jawa dalam etika modern tersebut diulas secara memikat oleh Annisa Akromah pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Ngawi, Senin (12/10).

​Tampil percaya diri di panggung Pendapa Wedya Graha mewakili MTsN 10 Ngawi, Annisa mengusung topik "Jaga Lisan, Jaga Jemari: Remaja Islami yang Bijak Bermedia Sosial dan Santun Berinteraksi".

Baca Juga: Via Valentina Dorong Lahirnya Generasi Rabbani yang Cerdas dan Berakhlak Mulia di Festival Dai Cilik

​Di hadapan dewan juri, ia mengutip pepatah Jawa legendaris ajining diri dumunung ing lathi untuk menggambarkan betapa krusialnya menjaga tutur kata.

​"Falsafah ajining diri dumunung ing lathi mengajarkan bahwa harga diri dan kehormatan seseorang itu tercermin dari ucapan serta lisannya. Di era digital saat ini, prinsip tersebut sangat berlaku di media sosial, karena akhlak dan ketikan kita adalah cerminan dari diri kita sendiri," tegas Annisa di hadapan para hadirin.

​Menurutnya, remaja Islami yang menghormati dirinya sendiri pasti akan sangat berhati-hati dalam menyampaikan pendapat agar tidak menjatuhkan martabat pribadi maupun menyakiti perasaan orang lain. (*)

Editor : Mizan Ahsani
Festival Dai Cilik 2026 media sosial ngawi