Bengawan Solo di Ngawi Berubah Jadi Taman Bunga, Eceng Gondok Bermekaran Viral

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 18:30 WIB
TAMAN BUNGA DADAKAN: Hamparan eceng gondok berbunga menutupi permukaan Bengawan Solo di bawah Jembatan Gantung Payak, Desa Kauman, Widodaren, Ngawi.  (ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI)
TAMAN BUNGA DADAKAN: Hamparan eceng gondok berbunga menutupi permukaan Bengawan Solo di bawah Jembatan Gantung Payak, Desa Kauman, Widodaren, Ngawi. (ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI)

Jawa Pos Radar Madiun – Pemandangan tak biasa muncul di aliran Bengawan Solo, tepatnya di bawah Jembatan Gantung Payak, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Ngawi.

Permukaan sungai yang menyusut akibat kemarau panjang kini tertutup hamparan eceng gondok berbunga.

Fenomena yang menyerupai taman bunga itu viral di media sosial dan mendadak menjadi lokasi favorit warga untuk berburu foto.

Dalam sepekan terakhir, ratusan warga berdatangan untuk menyaksikan langsung fenomena tersebut.

Terutama pada sore hari. Hamparan daun hijau yang berpadu dengan bunga eceng gondok bermekaran menyuguhkan pemandangan unik di sepanjang aliran sungai.

Jembatan Gantung Payak pun berubah menjadi titik pengamatan sekaligus lokasi swafoto.

Pengunjung memanfaatkan hamparan bunga yang menutupi permukaan Bengawan Solo sebagai latar belakang foto.

David Mirza, 17, salah seorang pengunjung, mengaku baru kali pertama melihat pemandangan seperti itu di kawasan tersebut.

Menurut dia, kemarau panjang yang membuat debit Bengawan Solo menyusut menjadi salah satu faktor munculnya hamparan eceng gondok.

’’Baru kali ini kayaknya. Soalnya musim tahun ini sangat panjang, eceng gondok itu tumbuh. Dulu tidak pernah seperti ini,’’ ujarnya, Senin (12/10).

Keunikan fenomena tersebut bahkan menarik warga untuk melakukan pemotretan dengan konsep khusus.

Salah satunya Mia Wulandari, 25, yang sengaja datang mengenakan busana bergaya Eropa.

Tidak tanggung-tanggung, Mia juga menyewa jasa fotografer untuk mengabadikan momen dengan latar hamparan bunga eceng gondok di Bengawan Solo.

’’Bunga eceng gondok yang muncul di musim kemarau panjang ini sangat indah, seperti taman bunga di Eropa,’’ ungkapnya.

Ramainya pengunjung turut membawa keuntungan bagi pedagang kecil di sekitar Jembatan Gantung Payak.

Meningkatnya kunjungan warga membuat aktivitas jual beli di kawasan tersebut ikut menggeliat.

Camat Widodaren Ardiansyah membenarkan bahwa fenomena eceng gondok berbunga itu telah menjadi daya tarik wisata dadakan.

Meski demikian, dia meminta masyarakat tetap mengutamakan keselamatan saat berkunjung.

Sebab, hamparan eceng gondok yang terlihat seperti taman bunga sebenarnya menutupi permukaan sungai.

Kondisi tersebut berpotensi membahayakan pengunjung yang mendekati atau memasuki aliran Bengawan Solo.

Terlebih, debit air sungai dapat meningkat sewaktu-waktu apabila terjadi hujan di kawasan hulu.

Karena itu, pengunjung diminta tetap waspada dan tidak terlena dengan keindahan pemandangan tersebut.

’’Warga juga harus waspada terhadap potensi kenaikan debit air yang bisa terjadi sewaktu-waktu seiring dengan mulai turunnya hujan di kawasan hulu sungai,’’ pungkasnya. (sae/her)

Editor : Hengky Ristanto
jembatan gantung payak enceng gondok berbunga Bengawan Solo fenomena alam ngawi