NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Pemuda asal Maospati, Magetan, ini mustahil bisa memainkan layangannya sendirian. Pasalnya, layang-layang miliknya berbentuk naga sepanjang 75 meter.
Karena susah, Yuda Novanda melibatkan lima rekannya untuk mengangkat, menerbangkan, hingga menurunkan layang-layang itu.
''Untuk menerbangkannya juga tidak mudah karena harus memperhitungkan kecepatan angin,'' kata Yuda.
Yuda jauh-jauh berangkat dari Maospati untuk mengikuti Festival Layang-Layang Tradisional di lapangan Desa Sidorejo, Kecamatan Geneng, Ngawi, Minggu (15/10) lalu.
Acara tersebut cukup meriah dengan diikuti ratusan peserta berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Antara lain, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, Sragen, dan Solo.
Para peserta membawa layang-layang berbagai bentuk dan kreasi. Selain naga, ada juga tokoh wayang. Festival tersebut membuat masyarakat berduyun-duyun datang untuk melihat.
''Layang-layang naga ini senilai Rp 7 juta,'' ungkap Yuda.
Ada tiga kategori layang-layang yang dilombakan. Meliputi polos, motif, dan kreasi. Objek penilainnya cukup variatif.
Antara lain, kondisi layang-layang saat berada di darat, keseimbangan ketika terbang, dan keindahan.
''Antusias peserta cukup tinggi. Padahal hadiahnya cuma satu ekor kambing dan perabotan rumah tangga,'' papar Bayu Pria Utama, ketua panitia Festival Layang-Layang Tradisional.
Bayu menyatakan, festival layang-layang sebagai salah satu upaya melestarikan mainan tradisional. Tujuan itu dianggap berhasil lantaran banyak orang tua datang mengajak anaknya.
''Selain untuk hiburan, juga mengenalkan ke anak-anak mainan tradisional,'' tuturnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya