Jawa Pos Radar Madiun – Tim nasional Palestina sedang menulis sejarah baru dalam perjalanan sepak bolanya.
Untuk pertama kalinya, peluang lolos ke babak play-off Kualifikasi Piala Dunia Asia begitu terbuka.
Uniknya, dari 23 pemain yang dipanggil untuk pertandingan penentuan melawan Oman, Rabu (11/6) dini hari WIB, dua di antaranya fasih berbicara bahasa Spanyol: Yaser Hamed dan Agustín Manzur.
Keduanya datang dari dua benua berbeda, tetapi dipersatukan oleh akar leluhur Palestina dan semangat membela Tanah Air yang tak pernah mereka tinggali secara penuh.
Yaser Hamed, bek tengah tangguh kelahiran Leioa, Spanyol, mengungkap bagaimana panggilan tim nasional Palestina pada 2019 menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Panggilan itu datang saat saya masih belajar. Tiba-tiba saya dihubungi pelatih Noureddine Ould Ali untuk bergabung ke timnas karena kewarganegaraan Palestina dari ayah saya,” tutur Yaser dalam wawancara bersama Marca dari Yordania—negara pengasingan tempat Palestina menjalani laga kandang sejak 2019 karena ketidakstabilan politik.
Yaser mengaku sudah tiga hingga empat kali mengunjungi Palestina, dan momen bermain di Ramallah menjadi pengalaman tak terlupakan.
“Stadion penuh sesak, semua mendukung kami... rasanya luar biasa,” katanya.
Bagi Yaser, membela Palestina bukan hanya tentang bermain sepak bola, melainkan tentang menyuarakan eksistensi negaranya di panggung dunia.
Kini ia bermain untuk Al Gharafa di Qatar, satu tim dengan bintang-bintang seperti Joselu, Rodrigo Moreno, dan Sergio Rico.
“Apa yang terjadi di sana sangat terasa. Kami bicara tentang kondisi keluarga kami di Gaza. Itu jadi motivasi ekstra,” ungkapnya. “Kami ingin mengalahkan Oman dan membawa kebahagiaan untuk rakyat Palestina.”
Dari Mendoza ke Palestina
Jika Yaser menjadi simbol diaspora Palestina dari Eropa, maka Agustín Manzur adalah wajah baru perlawanan dari Amerika Selatan.
Pemain berusia 24 tahun kelahiran Mendoza, Argentina, kini bermain untuk klub Guaraní di Paraguay. Ia baru debut membela Palestina saat FIFA Matchday melawan Kuwait.
“Saya tidak tahu kalau bisa membela Palestina. Tapi federasi menghubungi saya, dan mereka yang mengurus dokumen. Saya langsung setuju,” ujar Manzur.
Meski tak fasih berbahasa Arab, ia disambut hangat di dalam tim.
“Saya bangga mewakili negara ini. Semua tahu sejarah Palestina, dan saya ingin jadi bagian dari perjuangan mereka. Mimpi saya? Tentu saja, bermain di Piala Dunia bersama Palestina,” tegasnya.
Dengan kombinasi talenta dari berbagai belahan dunia, Palestina membangun kekuatan tim nasional yang tak hanya solid di lapangan, tapi juga menyuarakan identitas dan martabat bangsanya.
Pertandingan melawan Oman bisa jadi titik awal sejarah baru, dan nama Yaser Hamed serta Agustín Manzur kini ikut tertulis di dalamnya. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira