Jawa Pos Radar Madiun – Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 memperpanjang krisis panjang sepak bola negeri tersebut.
Ini menjadi kali ketiga secara beruntun Italia absen di Piala Dunia, setelah 2018 dan 2022.
Di tengah sorotan terhadap federasi dan sistem pembinaan, muncul satu benang merah yang kembali diperbincangkan: peran Juventus sebagai “tulang punggung” timnas Italia.
Juventus, Barometer Kekuatan Italia
Legenda Italia, Fabio Cannavaro, pernah menegaskan pentingnya Juventus bagi tim nasional.
Baca Juga: Italia 3 Kali Beruntun Gagal ke Piala Dunia, Ini Kritik Pedas Legenda Azzurri dan Juventus Del Piero
“Italia tidak bisa tampil baik tanpa banyak pemain Juventus di dalam skuad.”
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Sejarah menunjukkan, saat Juventus kuat, timnas Italia juga ikut berjaya.
Hal serupa diungkapkan legenda Bosnia yang juga pernah lima musim merumput bersama Bianconeri, Hasan Salihamidzic.
“Bagi saya, barometer sepak bola adalah Juventus. Ketika Juve tidak dalam kondisi terbaik, tim nasional juga ikut terdampak.”
Pandangan Cannavaro dan Salihamidzic menegaskan bahwa performa klub terbesar Italia memiliki efek domino terhadap kekuatan Azzurri.
Era Keemasan: Juventus Jadi Tulang Punggung
Saat Italia menjuarai Piala Dunia 2006, skuad Azzurri dipenuhi pemain Juventus.
Beberapa nama kunci antara lain: Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Mauro Camoranesi, dan Alessandro Del Piero.
Lalu, ada enam pemain Juventus saat Gli Azzurri menjadi juara Piala Dunia 1982.
Sementara saat mengangkat trofil Piala Eropa 2021, timnas Italia diisi empat pemain Juventus.
Baca Juga: Hasil Bosnia vs Italia: Bastoni Kartu Merah, Gli Azzuri Hattrick Gagal Lolos Piala Dunia
Pada kejuaraan selain tiga di atas, Juventus juga menunjukkan pola yang sama dengan selalu menjadi pemasok utama pemain timnas.
Kehadiran pemain dari satu klub besar menciptakan chemistry kuat, karena mereka sudah terbiasa bermain bersama di level klub.
Kondisi Sekarang Berbeda
Berbeda dengan masa lalu, komposisi timnas Italia saat ini tidak lagi didominasi oleh pemain Si Nyonya Tua.
Regenerasi di Juventus yang tidak stabil serta menurunnya dominasi klub di Serie A membuat kontribusi ke timnas ikut berkurang.
Akibatnya, Italia kehilangan identitas permainan yang solid dan sulit membangun chemistry kuat di lapangan.
Dampak ke Tim Nasional
Minimnya pemain dari satu “core club” membuat timnas Italia kehilangan fondasi permainan.
Hal ini berdampak pada kurangnya kekompakan antar pemain, inkonsistensi performa di laga penting, dan minimnya karakter kuat di dalam tim.
Situasi ini terlihat jelas dalam kegagalan di fase kualifikasi Piala Dunia dalam tiga edisi terakhir.
Italia di Titik Kritis
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi alarm besar bagi sepak bola Italia. Tidak hanya soal taktik atau pelatih, tetapi juga struktur pembinaan dan peran klub-klub besar.
Juventus yang dulu menjadi fondasi kini tidak lagi berada di level dominan seperti sebelumnya. Ketika klub kehilangan kekuatan, tim nasional ikut merasakan dampaknya.
Italia kini menghadapi realita pahit: tanpa fondasi kuat dari klub-klub besar, terutama Juventus, sulit bagi Azzurri untuk kembali ke level tertinggi sepak bola dunia.
Editor : Andi Chorniawan