Jawa Pos Radar Madiun – Kabar meninggalnya Alex Manninger menjadi kehilangan tersendiri, terutama bagi penggemar Juventus.
Kiper yang dikenal sebagai sosok tenang di balik bayang-bayang legenda.
Manninger mungkin bukan nama yang selalu berada di sorotan utama. Namun, perannya di klub-klub besar Eropa, khususnya Juventus, meninggalkan cerita yang tidak bisa diabaikan.
Hampir Satu Dekade Menunggu Juventus
Perjalanan Manninger menuju Juventus tidak instan. Di awal kariernya, ia sempat masuk radar klub asal Turin tersebut.
Baca Juga: Proyek Scudetto Juventus Dimulai! Luciano Spalletti Minta 5 Pemain Top, Ini Daftarnya
Namun saat itu, Juventus lebih memilih Edwin van der Sar sebagai pilihan utama.
Kesempatan itu pun datang jauh lebih lambat—ketika karier Manninger sudah mendekati fase akhir.
Saat akhirnya bergabung dengan Juventus pada 2008, Manninger datang bukan sebagai bintang utama.
Ia tahu posisinya berada di belakang Gianluigi Buffon. Namun, ia menerimanya tanpa ragu.
“Menjadi back up Gigi Buffon? Tidak masalah, memakai jersey Juventus saja saya sudah bahagia,” ucapnya kala itu.
Sebuah pernyataan yang menggambarkan karakternya: sederhana, profesional, dan loyal.
Bagian dari Era Kebangkitan Juventus
Manninger membela Juventus pada periode 2008–2012, masa ketika klub mulai bangkit setelah kasus Calciopoli.
Meski jarang tampil sebagai starter, ia tetap menjadi bagian dari skuad yang meraih Scudetto—gelar awal dari dominasi Juventus di Serie A.
Perannya mungkin tidak selalu terlihat di lapangan, tapi kehadirannya penting di ruang ganti.
Perjalanan Karier yang Panjang
Sebelum ke Juventus, Manninger dikenal luas saat memperkuat Arsenal pada akhir 1990-an.
Ia sempat menjadi kiper utama menggantikan David Seaman dan bahkan meraih penghargaan Player of the Month di Premier League—prestasi langka untuk kiper saat itu.
Selain Arsenal dan Juventus, ia juga pernah membela sejumlah klub Eropa seperti Fiorentina, Siena, dan Red Bull Salzburg.
Kariernya mencerminkan sosok profesional yang selalu siap di berbagai situasi—baik sebagai starter maupun pelapis.
Editor : Andi Chorniawan