Jawa Pos Radar Madiun - Indonesia masuk fase krusial.
Laga semifinal Uber Cup 2026 mempertemukan Indonesia melawan Korea Selatan, Sabtu (2/5).
Ini bukan sekadar pertandingan.
Ini ujian mental.
Ini ujian kualitas.
Karena Korea datang dengan satu nama yang sedang “panas”: An Se Young.
Dominasi An Se Young: Empat Laga, Empat Kemenangan Telak
An Se Young tidak sekadar menang.
Ia mendominasi.
Dari empat pertandingan yang sudah dijalani, semuanya disapu bersih dua gim langsung.
Korban-korbannya bukan pemain sembarangan:
• Clara Azumendi
• Kaloyana Nalbantova
• Ratchanok Intanon
• Chiu Pin-Chian
Angkanya juga bicara.
Tak ada lawan yang tembus lebih dari 15 poin.
Bahkan di perempat final, Chiu Pin-Chian dihajar 21-7, 21-8.
Ini bukan performa biasa.
Ini sinyal bahaya.
Korea Bergantung pada Satu Motor
Korea bermain dengan pola jelas.
An Se Young selalu turun sebagai tunggal pertama.
Tugasnya sederhana: buka jalan kemenangan.
Dan sejauh ini, itu selalu berhasil.
Kemenangan di partai pertama memberi efek domino.
Kepercayaan diri tim meningkat.
Tekanan berpindah ke lawan.
Putri KW di Ujung Tantangan
Indonesia hampir pasti menurunkan Putri Kusuma Wardani.
Di atas kertas, ini duel berat.
Rekor pertemuan berbicara jujur:
0 kemenangan dari 9 laga melawan An Se Young.
Tahun ini saja, Putri KW sudah dua kali tumbang:
• All England
• India Open
Bukan sekadar kalah.
Tapi belum menemukan celah.
Kunci Laga: Tahan Tekanan, Cari Celah
Indonesia tidak punya banyak ruang kesalahan.
Jika An Se Young kembali menang cepat, Korea akan di atas angin.
Sebaliknya, jika Putri KW bisa menahan laju—meski hanya memperpanjang rally—itu sudah jadi sinyal berbeda.
Semifinal ini bukan hanya soal teknik.
Ini soal keberanian menghadapi dominasi.
Editor : Ockta Prana Lagawira