
NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Sejarah sepak bola lokal seringkali meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam ingatan para pendukungnya.
Tepat sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 15 Mei 2016, Stadion Ketonggo Ngawi menjadi saksi bisu salah satu atmosfer paling luar biasa dalam kompetisi ISC B, saat tuan rumah Persinga Ngawi menjamu PSS Sleman.
Pertandingan ini tidak hanya diingat karena hasil di papan skor, tetapi karena pemandangan fenomenal di tribun penonton.
Ribuan pendukung setia PSS Sleman yang tergabung dalam Brigata Curva Sud (BCS) datang langsung dari Sleman, menciptakan "lautan suporter" yang memenuhi hampir setiap sudut stadion hingga meluber ke area pinggir lapangan.
Baca Juga: Menolak Lupa! Deretan Tim Raksasa Liga 1 yang Pernah Bertekuk Lutut di Stadion Ketonggo Ngawi
Dominasi Warna dan Nyanyian BCS
Loyalitas dan militansi BCS benar-benar teruji dalam laga ini. Stadion Ketonggo yang biasanya didominasi warna merah-hitam khas tuan rumah, saat itu berubah menjadi panggung bagi koreografi dan nyanyian khas BCS.
Momen ini tercatat sebagai salah satu pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah berdirinya Stadion Ketonggo.
Meski bertindak sebagai tamu, dukungan masif dari suporter tidak menyurutkan mental pemain di lapangan.
Sebaliknya, hal ini menciptakan tensi tinggi yang membuat jalannya pertandingan berlangsung sengit sejak peluit pertama dibunyikan.
Baca Juga: Jadwal BRI Liga 1 Pekan 32: Menanti Duel Panas El Clasico Persija vs Persib!
Kemenangan Dramatis Persinga Ngawi
Di bawah tekanan atmosfer luar biasa dari suporter lawan, Persinga Ngawi justru menunjukkan tajinya sebagai "jago kandang".
Tampil solid dan pantang menyerah, klub berjuluk Laskar Ketonggo tersebut berhasil mengandaskan perlawanan PSS Sleman secara dramatis.
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Persinga Ngawi disambut gembira oleh masyarakat lokal setempat.
Kemenangan ini sekaligus mempertegas kekuatan Persinga saat bermain di hadapan publik sendiri, meski harus berbagi ruang dengan ribuan suporter lawan.
Hingga kini, peristiwa di tahun 2016 tersebut tetap dikenang sebagai momen ikonik yang membuktikan betapa besarnya gairah sepak bola Indonesia.
Di mana rivalitas dan loyalitas bersatu dalam satu arena. (tif)
(sumber: instagram @jurnalngawi)
Editor : Latiful Habibi