SLEMAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ambisi PSS Sleman untuk mengangkat trofi di kandang sendiri mendapat ujian berat.
Menjamu Garudayaksa FC dalam laga Final Pegadaian Championship 2025/26, tim berjuluk Super Elang Jawa (Super Elja) harus tertinggal 0-2 di babak pertama akibat rapuhnya barisan pertahanan.
Jalannya Laga: Efektivitas Tim Tamu Jadi Kunci
Sejak peluit pertama dibunyikan, tensi pertandingan langsung memanas.
Kedua tim memeragakan permainan terbuka dengan tempo tinggi dan kontak fisik yang cukup keras.
Meski PSS Sleman mampu mengimbangi penguasaan bola, Garudayaksa tampil jauh lebih klinis dan efektif dalam memanfaatkan celah.
Petaka bagi tuan rumah dimulai pada menit ke-23. Alfin Ismail Kelilauw berhasil memecah kebuntuan dan membawa Garudayaksa unggul 1-0.
Belum sempat bangkit, PSS kembali melakukan kesalahan fatal di area terlarang yang berujung penalti.
Fachrudin menjatuhkan Frydek di kotak terlarang. Meski sempat tak dianggap pelanggaran, akhirnya wasit memutuskan penalti setelah mengecek VAR.
Everton yang maju sebagai eksekutor pada menit ke-36 tidak menyia-nyiakan peluang tersebut untuk menggandakan keunggulan tim tamu menjadi 2-0.
Baca Juga: Preview Final Liga 2, PSS Sleman vs Garudayaksa FC: Ambisi Merusak Pesta Super Elang Jawa
Lini Pertahanan PSS Sleman Jadi Sorotan
Meski lini tengah dan depan PSS Sleman tampil agresif, koordinasi lini belakang menjadi titik lemah yang mencolok.
Beberapa catatan kritis bagi skuad asuhan Ansyari Lubis di babak pertama antara lain:
Longgarnya Kawalan: Fachrudin dan kawan-kawan kerap membiarkan pemain lawan berdiri bebas tanpa pengawalan ketat di dalam kotak penalti.
Blunder Kiper: Ega Rizky terpantau beberapa kali melakukan pengambilan keputusan yang berisiko dengan keluar dari sarangnya, namun justru kalah dalam duel dengan penyerang lawan.
Transisi Buruk: Jarak antar lini yang terlalu lebar saat kehilangan bola membuat Garudayaksa mudah melakukan serangan balik.
Misi Mustahil di Babak Kedua?
Memasuki babak kedua, pelatih PSS Sleman, Ansyari Lubis, memiliki pekerjaan rumah (PR) yang menumpuk.
Perbaikan transisi dari menyerang ke bertahan menjadi harga mati jika tidak ingin kebobolan lebih banyak.
Menambah daya dobrak di lini depan mungkin menjadi opsi, namun stabilitas lini belakang tetap menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, Garudayaksa FC diprediksi akan bermain lebih pragmatis.
Baca Juga: Manajer Persija: Duel vs Persib Banyak Drama, Tak Pantas Disebut El Clasico
Dengan keunggulan dua gol, tim tamu kemungkinan besar akan memperkuat kedalaman pertahanan dan mengandalkan counter-attack cepat untuk membunuh pertandingan.
Mampukah Super Elja membalikkan keadaan di hadapan pendukungnya sendiri, atau justru Garudayaksa yang akan berpesta di Sleman? Patut dinantikan jalannya 45 menit kedua. (tif)
Editor : Latiful Habibi