Jawa Pos Radar Madiun - Pelatih Timnas Voli Putri Korea Selatan, Cha Sang-hyun, baru-baru ini melontarkan gagasan yang memicu diskusi hangat di kalangan pencinta olahraga voli.
Mengingat krusialnya jam terbang bagi atlet, sang pelatih menyoroti minimnya kesempatan bermain bagi para pemain lokal di kompetisi domestik V-League.
Sebagai solusi ekstrem, ia mengusulkan agar otoritas liga voli Korea menerapkan regulasi khusus yang berpihak pada pembinaan pemain dalam negeri.
Gagasan tersebut dinilai sangat masuk akal mengingat V-League saat ini telah menerapkan sistem kuota pemain Asia untuk mendongkrak popularitas dan kualitas liga.
Namun, efek samping dari kebijakan ini adalah berkurangnya porsi bermain atlet lokal. Dalam banyak pertandingan, setidaknya ada dua pemain kuota asing yang selalu dikunci sebagai starter.
Jika diakumulasikan, di luar posisi libero, praktis hanya tersisa empat ruang bagi pemain lokal untuk unjuk gigi di atas lapangan.
"Setidaknya pada tahun-tahun ketika Asian Games atau Olimpiade diselenggarakan, sekitar setengah dari jadwal V-League harus dimainkan secara eksklusif oleh pemain lokal," ujar Coach Cha.
Kondisi ini semakin diperparah oleh ambisi setiap klub yang tentu hanya ingin menurunkan susunan pemain terbaik demi meraih kemenangan.
Alhasil, pemandangan pemain lokal yang hanya menghabiskan waktu di zona pemanasan, masuk sebentar hanya untuk melakukan servis, dan kembali ditarik keluar, menjadi hal yang sangat lumrah ditemui di setiap pertandingan.
Krisis Posisi Opposite Lokal
Imbas paling fatal dari dominasi pemain asing ini sangat terasa pada krisis pemain lokal di posisi opposite.
Bisa dikatakan, ini adalah posisi di mana pemain domestik hampir mustahil untuk bertahan dan bersinar di V-League.
Hampir seluruh klub mengandalkan tenaga pemain asing atau pemain dari kuota Asia sebagai mesin pendulang poin utama.
Contoh nyatanya, Hyundai Hillstate yang merekrut Megawati Hangestri atau GS Caltex dengan Gyselle Silva.
Bagi pemain lokal, posisi mereka sering kali hanya direduksi menjadi pemain cadangan yang bertugas menjaga stamina para spiker asing tersebut agar tidak kelelahan.
Praktis, tim nasional kini kesulitan menemukan sumber daya penyerang lokal mumpuni yang terbiasa memikul beban sebagai pencetak skor terbanyak.
Di tengah wacana V-League yang sedang mempertimbangkan penambahan kuota pemain Asia kedua, kecemasan pelatih Cha Sang-hyun terhadap masa depan daya saing tim nasional tentu sangat beralasan.
Opsi Penambahan Jumlah Pertandingan
Di sisi lain, usulan pelatih Cha untuk menjalankan separuh liga secara eksklusif hanya dengan pemain lokal dinilai akan membebani klub secara finansial dan komersial.
Pihak klub dan sponsor khawatir bahwa absennya pemain asing akan menurunkan standar kualitas permainan, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk pada pamor liga secara keseluruhan.
Wacana pembentukan liga lapis kedua yang sempat digodok selama beberapa tahun terakhir pun dinilai terlalu rumit untuk segera direalisasikan.
Sebagai jalan tengah yang paling rasional, muncul sebuah proposal alternatif untuk memperluas jumlah pertandingan dalam satu musim.
Saat ini, V-League beroperasi dengan sistem 36 pertandingan per musim. Beberapa klub mulai menyuarakan ide untuk meningkatkan frekuensi laga secara drastis guna memaksa tim melakukan rotasi pemain secara reguler.
Dengan jadwal padat yang mengharuskan tim bertanding tiga hingga empat kali dalam sepekan, pelatih klub mau tidak mau harus menciptakan lingkungan rotasi yang sehat dan memanfaatkan seluruh sumber daya pemain.
Skema rotasi paksa inilah yang diyakini mampu membuka ruang seluas-luasnya bagi pemain lokal di berbagai posisi untuk merumput tanpa harus menghapus kuota pemain asing.
Mengingat kontrak hak siar televisi V-League baru akan berakhir setelah musim 2026-2027, perubahan jadwal dan format kompetisi dalam waktu dekat memang masih sulit dilakukan.
Kendati demikian, wacana ini menjadi peringatan keras bahwa sudah saatnya otoritas voli Korea memikirkan formulasi terbaik agar liga domestik tetap bergengsi tanpa mengorbankan masa depan pembinaan timnas. (naz)
Editor : Mizan Ahsani