Jawa Pos Radar Madiun - Gelaran bergengsi Piala Dunia 2026 memicu perdebatan panas antara netizen Malaysia dan Indonesia di media sosial.
Polemik lintas negara ini dipicu oleh persoalan akses tayangan pertandingan yang disiarkan secara resmi oleh lembaga penyiaran Malaysia, RTM.
Seorang pengguna media sosial X asal Malaysia bernama Saifuddin Al-Botakiri secara terbuka mengungkapkan kekesalannya.
Ia menyoroti beredarnya unggahan tutorial yang memperlihatkan cara warga Indonesia mengakses siaran Piala Dunia 2026 melalui platform RTMKlik.
Para penonton gelap tersebut diketahui memanfaatkan layanan Virtual Private Network (VPN) untuk menembus batas akses geografis.
Saifuddin mengaku sangat khawatir membeludaknya penonton asing dari luar Malaysia akan sangat membebani server layanan streaming tersebut.
Apalagi, hak siar turnamen sepak bola akbar tersebut telah dibeli oleh negaranya dengan anggaran yang tidak main-main.
"Membayar RM24 juta untuk hak siar bagi warga Malaysia, begitu server menjadi berat karena dipenuhi oleh warga Indonesia," keluhnya seraya meminta Menteri Komunikasi Malaysia untuk memperketat akses.
Unggahan viral tersebut langsung memantik beragam komentar bernada protes dari kalangan netizen Negeri Jiran lainnya.
Sebagian besar dari mereka secara tegas meminta pihak penyelenggara segera melakukan pembatasan akses siaran digital.
Seorang pengguna bernama Aliffriz mendesak RTM untuk segera mengambil tindakan karena warga Malaysia membayar mahal sementara warga asing bisa menikmati tayangan secara gratis.
Sementara itu, pengguna lain bernama Nizam Reezahar memberikan saran teknis dengan menerapkan sistem geoblocking yang ketat.
Langkah ini dinilai menjadi solusi paling efektif agar siaran eksklusif RTMKlik hanya dapat diakses melalui jaringan internet dari dalam wilayah Malaysia.
Isu pembajakan saluran digital ini mencuat seiring dengan tingginya minat masyarakat Asia Tenggara terhadap pertandingan Piala Dunia 2026.
Sebagai informasi, stasiun televisi RTM bersama Unifi TV secara sah merupakan pemegang hak siar resmi turnamen tersebut khusus untuk teritori Malaysia.
Tingginya antusiasme masyarakat tersebut pada akhirnya membuat celah akses lintas negara melalui jalur VPN terus menjadi topik hangat di media sosial.
Meski gelombang protes mulai membesar, hingga saat ini belum ada tanggapan atau pernyataan resmi dari pihak RTM maupun pemerintah Malaysia.
Namun, wacana pengetatan akses serta penggunaan MyDigital ID untuk masuk ke layanan RTMKlik kini semakin ramai didorong oleh publik Negeri Jiran. (naz)
Editor : Mizan Ahsani