Jawa Pos Radar Madiun - Nama Deniz Undav mendadak menjadi perbincangan hangat di pentas Piala Dunia 2026 berkat penampilan super gemilangnya bersama Timnas Jerman.
Di balik statusnya sebagai pahlawan Die Mannschaft saat ini, striker berusia 29 tahun itu rupanya menyimpan kisah masa lalu yang penuh dengan keringat dan air mata.
Jalan terjal yang harus dilaluinya pada masa muda bahkan nyaris membuat mimpinya untuk menjadi pesepak bola profesional terkubur dalam-dalam.
Pahlawan Kelolosan Timnas Jerman
Undav baru saja menjadi aktor utama kemenangan dramatis Jerman saat menaklukkan Pantai Gading dengan skor 2-1 di BMO Field, Toronto, pada Minggu (21/6) dini hari WIB.
Ia sukses memborong dua gol kemenangan yang secara otomatis memastikan langkah Jerman lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak edisi 2014 silam.
Pada laga perdana Grup H sebelumnya, Undav juga turut menyumbangkan gol saat masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan telak 7-1 atas tim kejutan, Curaçao.
Pencapaian brilian itu menjadikannya sebagai pemain Jerman pertama sejak Miroslav Klose pada tahun 2002 yang sukses mencetak gol dalam dua penampilan awal di ajang Piala Dunia.
Tidak berhenti sampai di situ, koleksi tiga gol dan dua assist dari dua pertandingannya turut menyamai rekor bersejarah milik legenda Kamerun, Roger Milla.
Baca Juga: Libur Sekolah 2026 Banjir Promo, Pemerintah Sebar Diskon Tiket Kereta, Kapal, dan Pesawat
Ditolak Klub dan Jadi Buruh Pabrik
Jauh sebelum menapaki panggung termegah sepak bola dunia, Undav rupanya pernah ditolak mentah-mentah oleh akademi Werder Bremen saat usianya baru menginjak 14 tahun.
Ia didepak dari tim karena postur tubuhnya dinilai terlalu kecil dan dianggap tidak akan memiliki masa depan yang cerah di industri sepak bola.
"Ketika Werder memberi tahu saya pada usia 14 tahun bahwa saya tidak memiliki masa depan bersama mereka karena saya terlalu kecil, itu menghancurkan hati saya," kenang Undav.
Menolak menyerah pada nasib, penyerang setinggi 179 sentimeter itu nekat meninggalkan rumah pada usia 17 tahun demi bergabung dengan klub kasta keempat, TSV Havelse.
Demi menyambung hidup dan tetap bisa mengejar mimpinya di lapangan hijau, ia terpaksa bekerja purnawaktu sebagai buruh di sebuah pabrik.
Setiap harinya, Undav harus bangun pada pukul 04.00 pagi untuk bekerja, lalu dilanjutkan dengan latihan sepak bola hingga baru bisa kembali ke rumah pada pukul 20.00 malam.
Titik Balik Kesuksesan di Lapangan
Buah dari kerja keras tanpa henti itu baru mulai terlihat nyata ketika ia memutuskan hijrah ke klub asal Belgia, Union Saint-Gilloise, pada tahun 2020.
Torehan 25 golnya yang sukses membawa klub tersebut promosi akhirnya membuat tim kasta tertinggi Liga Inggris, Brighton & Hove Albion, kepincut untuk merekrutnya.
Kariernya sempat kembali meredup di Inggris, namun masa peminjamannya ke VfB Stuttgart justru menjadi titik balik terbesar hingga statusnya dipermanenkan pada tahun 2024.
Ketajamannya semakin terasah setelah ia berhasil mencetak 19 gol di ajang Bundesliga musim 2025/2026, dan hanya kalah tajam dari bomber sekelas Harry Kane.
Kini, mantan buruh pabrik yang tak pernah menyerah pada keadaan itu telah menjelma menjadi salah satu bintang paling mematikan yang ditakuti di Piala Dunia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani