Jawa Pos Radar Madiun - Sejarah besar sepak bola modern dipastikan bakal tercipta di atas rumput Toronto Stadium, Kanada, saat dua ikon abadi dipertemukan dalam laga hidup mati.
Cristiano Ronaldo dan Luka Modric, yang pernah bahu-membahu memainkan 223 pertandingan selama enam tahun emas di Real Madrid sejak 2012 sampai 2018, kini harus saling menjatuhkan.
Dua sahabat karib ini akan memimpin negaranya masing-masing saat Portugal ditantang Kroasia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat (3/7) pukul 06.00 WIB.
Pertemuan ini terbilang sangat unik sekaligus langka karena terjadi di saat usia kedua pemain flamboyan tersebut telah resmi menginjak kepala empat.
Sebelum edisi ini bergulir, tercatat hanya ada nama legenda Kamerun, Roger Milla, sebagai pemain non-kiper berusia 40 tahun atau lebih yang mampu mencicipi atmosfer putaran final Piala Dunia.
Perbandingan Rapor Dua Ikon di Usia Senja
Kiprah luar biasa Modric dan Ronaldo dalam turnamen akbar Benua Amerika ini sejatinya mendapatkan respons dan penilaian yang beragam dari para pengamat.
Ronaldo bahkan sempat diterpa isu miring karena dianggap menghambat regenerasi emas Selecao das Quinas dalam merengkuh target tertinggi merebut trofi juara dunia.
Faktor penurunan kondisi fisik akibat usia 40-an tahun memang menjadi tantangan tersendiri yang tidak bisa dibantah dari performa impresif Ronaldo di atas lapangan.
Bermain selama 270 menit, pemilik lima trofi Ballon d'Or itu tercatat menduduki urutan ke-38 dalam duel memperebutkan bola dari total 38 pemain depan yang terdata oleh tim analisis.
Catatan milik Luka Modric terpantau sedikit lebih baik, di mana selama 229 menit bermain, sang jenderal lapangan tengah sukses mengemas lima kreasi peluang berbahaya bagi rekannya.
Namun, kurang tajamnya performa Ronaldo di lini depan sama sekali tidak mencerminkan gambaran umum kekuatan kolektif Portugal yang saat ini duduk di peringkat 8 FIFA.
Skuad asuhan Roberto Martinez tetap diunggulkan menang atas Kroasia yang berada di peringkat 13 FIFA, berkat keunggulan produktivitas gol di sepanjang fase grup.
Portugal sukses melesakkan 6 gol dari 37 peluang dan baru kebobolan satu kali, sementara gawang tim Vatreni tercatat sudah jebol sebanyak lima kali dari serbuan musuh.
Baca Juga: i-dle Makin Panaskan Comeback, Teaser Kedua "Gimme Dat Love" Tampilkan Aura Summer Queen
Dominasi Kuat Lini Tengah dan Agresivitas Sayap
Keunggulan taktis Portugal juga terlihat jelas lewat indikator pergerakan pemain di sepertiga akhir lapangan dengan koleksi 197 sentuhan, yang 70 persen di antaranya bertumpu di kedua sayap.
Akurasi aliran bola tim Samba Eropa ini juga jauh lebih cair melalui catatan indikator offer to receive yang menyentuh angka 1.210 kali, berbanding 938 milik Kroasia.
Portugal juga jauh lebih aktif dalam urusan merusak konsentrasi lini pertahanan lawan dengan membukukan 597 kali tusukan, di mana 450 pergerakan di antaranya terbukti berjalan efektif.
Kekuatan lini tengah Portugal yang dihuni duet Paris Saint-Germain, Vitinha dan Joao Neves, serta Bruno Fernandes dinilai menjadi yang paling hidup di dunia saat ini.
Fernandes dan Vitinha menjadi dua motor serangan paling menonjol dalam urusan melepaskan umpan silang akurat, bergerak antarlini, hingga menerapkan taktik menekan (pressing).
Sebagai perbandingan, suplai umpan tertinggi di kubu Kroasia justru dipegang oleh bek tengah Josip Sutalo dengan 233 kali, masih di bawah catatan milik Vitinha yang mencapai 281 umpan.
Vitinha bahkan mencatatkan angka 74 kali dalam misi menghancurkan mode defensif musuh, unggul jauh dari Modric yang hanya mengemas 42 kali aksi intersep di areanya.
Baca Juga: Death Whisperer 3 Banjir Pujian dan Kritik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Siasat Mengadopsi Cetak Biru Formula Kolombia
Menghadapi kreativitas lini tengah Portugal yang mengerikan, pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, diprediksi kuat akan merombak formasi pakem 4-2-3-1 milik timnya.
Dalic berpeluang besar mengadopsi "Formula Kolombia", yakni taktik poros tunggal dengan tiga penyerang dalam pola 4-1-2-3 yang terbukti sukses menahan imbang Portugal 0-0.
Saat menghadapi Portugal di pertandingan terakhir Grup K, skema ofensif agresif milik Kolombia itu terbukti sukses mendominasi penguasaan bola dan meredam inisiatif serangan Selecao.
Skema ini patut dicoba oleh Dalic demi bisa mematikan aliran bola dari sayap Portugal sekaligus memberikan ruang gerak yang lebih bebas bagi Modric untuk mendikte ritme permainan.
Jika formula berani ini berhasil meredam kreativitas Portugal, maka Modric yang akan melaju ke babak 16 besar untuk menantang pemenang antara duel Spanyol melawan Austria.
Namun, jika lini tengah Portugal tetap tampil dominan, maka panggung Toronto akan menjadi saksi Cristiano Ronaldo mengirim sahabat karibnya itu untuk mengucapkan selamat tinggal lebih awal. (naz)
Editor : Mizan Ahsani