Jawa Pos Radar Madiun - Ambisi besar untuk membawa nama baik pariwisata dan prestasi olahraga nasional ke kancah internasional kini menjadi perhatian serius di level tertinggi pemerintahan.
Evaluasi menyeluruh terhadap performa skuad garuda di lapangan hijau terus digulirkan demi menyusun cetak biru sepak bola Indonesia yang lebih mapan dan berdaya saing.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Arya Sinulingga merespons keresahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto karena timnas Indonesia belum berhasil lolos ke Piala Dunia 2026.
Keresahan ini diungkapkan Prabowo dalam acara peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis.
"Ya kan jelas ya Pak Prabowo nyari Pak Ketum, Pak Erick, dan langsung nyari juga Menkeu. Berarti beliau tahu juga bahwa Menkeu Pak Purbaya perlu support sepak bola Indonesia dengan anggaran dari APBN," kata Arya di Kemenpora, Jakarta, Jumat.
Keterangan tersebut disampaikan saat ia ditemui awak media setelah menghadiri seremoni pelepasan tim sepak bola usia muda Indonesia yang akan bertolak ke Swedia untuk mengikuti Gothia Cup 2026.
"Kan itu clear tuh karena dia seperti itu. Jadi kita butuh dukungan juga support seperti itu dari Menkeu, pendanaan," tambah dia menegaskan pentingnya asupan dana bagi program tim nasional.
Baca Juga: GTA Online Hadirkan Heist Baru Pertama dalam 6 Tahun, Misi Mencuri Karya Seni Dimulai 14 Juli
Kebanggaan Bangsa dan Target Piala Dunia 2030 di Tiga Negara
Bagi kepala negara, capaian luar biasa di sektor kemandirian energi dirasa belum lengkap tanpa adanya prestasi di lapangan hijau yang diakui oleh mata dunia.
Presiden mengaku masih merasa resah dan belum puas meskipun Indonesia telah mampu menerapkan program biodiesel B50, karena tim nasional sepak bola Indonesia belum berhasil menembus pesta sepak bola akbar empat tahunan itu.
Menurutnya, sepak bola merupakan bagian dari kehormatan bangsa sehingga upaya untuk membawa Indonesia masuk Piala Dunia perlu menjadi perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan.
"Yang masih kita sulit adalah masuk Piala Dunia. Nah itu saya masih...Jadi, saya resah, terus terang aja saya resah. Kita bisa B50 tetapi tidak masuk Piala Dunia, saya masih tidak puas," kata Prabowo dalam pidatonya.
Ia kemudian meminta Ketua Umum PSSI Erick Thohir mencari cara agar Indonesia dapat masuk Piala Dunia dalam edisi berikutnya tahun 2030 yang dimainkan di Spanyol, Portugal, dan Maroko.
Prabowo juga bertanya kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai jaminan dukungan finansial yang diperlukan agar Indonesia dapat mewujudkan target masuk Piala Dunia.
"Dan Pak Prabowo jelas ya dia kalau untuk hal lain naturalisasi dan sebagainya beliau sangat support. Dan sekarang beliau lihat ini butuh pendanaan, beliau juga support. Mudah-mudahan kita 2030 bisa ke sana gitu," ucap Arya.
Evaluasi Kualifikasi dan Peningkatan Mutu Kompetisi Liga Domestik
Langkah menuju panggung utama dunia memang terhenti di fase krusial, namun hal itu menyisakan catatan penting untuk perbaikan struktur pembinaan pemain.
Tim Garuda gagal bermain di putaran final Piala Dunia 2026 setelah dua kekalahan yang mereka terima dari Arab Saudi dan Irak pada putaran keempat babak kualifikasi, Oktober tahun lalu.
Dua kekalahan tersebut membuat Indonesia gagal mengamankan satu tiket otomatis sebagai wakil dari konfederasi sepak bola Asia.
Arya berharap, setelah kegagalan menembus Piala Dunia 2026, lembaran kelam yang sama tidak kembali terulang dalam kurun waktu empat tahun ke depan.
Ia mengungkapkan, segala perbaikan yang sudah dimulai dari sekarang, termasuk membenahi kualitas kompetisi liga profesional di dalam negeri, dapat membantu skuad Garuda bersaing maksimal menuju Piala Dunia 2030.
"Ya wajar, semua negara juga pasti pengen ke sana dan kan kemarin kita sudah berjuang tuh, sudah berjuang menuju ke sana. Capaian kita kemarin itu tertinggi sepanjang sejarah kita main bola. Artinya tahapan berikutnya ya mudah-mudahan lebih dari yang kemarin. Nah ini yang dilakukan," tutupnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani