Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan yang dimulai dengan kejayaan besar akhirnya berakhir dengan keputusan mengejutkan.
Brendon McCullum resmi dicopot dari posisi pelatih kepala tim Test Inggris setelah hampir empat tahun membawa perubahan besar melalui gaya permainan agresif yang dikenal sebagai “Bazball”.
Keputusan ini muncul hanya dua minggu setelah kapten Inggris Ben Stokes mengumumkan pensiun dari kriket internasional.
Kepergian McCullum menjadi tanda berakhirnya era yang sempat menghidupkan kembali harapan penggemar terhadap tim Test Inggris.
Meski tidak lagi menangani tim Test, McCullum tetap dipercaya sebagai pelatih tim white-ball Inggris.
Namun, serangkaian hasil buruk dan beberapa kontroversi di luar lapangan membuat dewan England and Wales Cricket Board akhirnya melakukan perubahan besar.
Baca Juga: Artemis II 2026: Ketika Bumi Terlihat Kecil di Tengah Gelapnya Ruang Angkasa
Performa Menurun Jadi Alasan Utama Pemecatan
Dalam sembilan pertandingan Test terakhir, Inggris hanya mampu meraih dua kemenangan dan mengalami tujuh kekalahan.
Salah satu hasil terburuk terjadi saat Inggris kalah 4-1 dari Australia dalam seri Ashes 2025-26.
Awalnya, McCullum, Stokes, dan direktur kriket Rob Key masih mendapat dukungan untuk mempertahankan posisi mereka setelah kekalahan tersebut.
Namun, kekalahan 2-1 dari Selandia Baru di kandang sendiri memperburuk situasi.
Hasil tersebut menjadi kekalahan pertama Inggris dalam seri kandang minimal tiga pertandingan selama 14 tahun.
Situasi semakin rumit setelah muncul kontroversi di luar lapangan yang melibatkan beberapa pemain.
Bazball Membawa Perubahan Besar bagi Inggris
Ketika McCullum mengambil alih posisi pelatih Test pada 2022, kondisi Inggris sedang mengalami masa sulit.
Tim tersebut hanya memenangkan satu dari 17 pertandingan Test sebelumnya.
Bersama Ben Stokes sebagai kapten, McCullum memperkenalkan pendekatan baru yang lebih agresif dan berani mengambil risiko.
Baca Juga: Benteng Terakhir Harimau Sumatera, Upaya Konservasi di Kerinci Seblat Terus Diperkuat
Strategi tersebut kemudian dikenal sebagai Bazball. Pada awal kepemimpinannya, hasil yang diraih sangat mengesankan.
Inggris memenangkan 10 dari 11 pertandingan Test pertama bersama McCullum dan Stokes.
Beberapa kemenangan penting terjadi saat menghadapi Selandia Baru di Trent Bridge, India di Edgbaston, serta Pakistan di Rawalpindi yang menghasilkan kemenangan seri 3-0.
Namun, setelah periode awal yang gemilang, performa Inggris mulai mengalami penurunan.
Dari 38 pertandingan Test berikutnya, Inggris hanya meraih 17 kemenangan dan mengalami 19 kekalahan.
Krisis Setelah Tur Australia
Tur Ashes 2025-26 menjadi salah satu titik terburuk dalam era McCullum.
Inggris datang dengan rencana membangun serangan cepat yang dianggap sebagai salah satu skuad bowling terkuat dalam beberapa dekade.
Namun, persiapan yang dianggap kurang matang membuat Inggris gagal tampil maksimal.
Setelah hanya menjalani satu pertandingan pemanasan, Inggris kehilangan momentum meski sempat unggul dalam pertandingan pertama di Perth.
Mereka akhirnya kalah sebelum pertandingan hari kedua berakhir dan tidak mampu bangkit sepanjang seri.
Selain masalah di lapangan, reputasi tim juga terganggu oleh beberapa insiden di luar pertandingan.
Salah satunya adalah rekaman pemain Inggris Ben Duckett yang terlihat mabuk saat berada di Noosa.
Baca Juga: Mengapa Keluarga Miskin Cenderung Memiliki Banyak Anak? Ini Beragam Faktor yang Memengaruhinya
Inggris Mulai Mencari Pengganti McCullum
Dengan posisi pelatih Test yang kini kosong, Inggris harus segera mencari sosok baru sebelum menghadapi Pakistan pada 19 Agustus.
Nama Harry Brook disebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Ben Stokes sebagai kapten Test.
Namun, keputusan tersebut kemungkinan akan bergantung pada siapa pelatih baru yang dipilih.
Beberapa kandidat yang disebut berpeluang menggantikan McCullum antara lain Andy Flower, Richard Dawson, Gareth Batty, hingga mantan pelatih Australia Darren Lehmann.
Meskipun era Bazball berakhir dengan kontroversi, kontribusi McCullum tetap dianggap besar dalam mengubah wajah kriket Inggris.
Ia berhasil membawa energi baru dan membuat pertandingan Test kembali menarik bagi banyak penggemar.
Kini, tantangan terbesar Inggris adalah menemukan pelatih yang mampu mempertahankan semangat agresif tersebut sekaligus mengembalikan konsistensi dan kedisiplinan tim. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun