Jawa Pos Radar Madiun - Angin kencang terus menghantam posisi Gianni Infantino dalam jabatannya sebagai orang nomor satu di federasi sepak bola internasional alias FIFA.
Terbaru, Presiden FIFA itu resmi diadukan oleh lembaga pembela hak asasi manusia (HAM), FairSquare, ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) atas pelanggaran aturan netralitas politik.
Pihak FairSquare mengaku sudah jengah dan muak dengan berbagai tindakan Infantino belakangan ini yang secara terbuka menunjukkan kedekatan khusus dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Lembaga tersebut bahkan mengungkap beberapa jejak digital yang mengindikasikan adanya bentuk ketundukan FIFA terhadap kepentingan politik Trump.
"Gianni Infantino telah berulang kali melanggar aturan IOC soal netralitas politik dengan menyatakan dukungan politik kepada Presiden AS Donald Trump," demikian pernyataan pihak FairSquare.
"Ada setidaknya 5 pelanggaran terhadap prinsip itu," lanjutnya.
Baca Juga: Ambisi Akhiri Puasa Gelar Tiga Dekade, John Herdman Yakin Indonesia Juara Piala AFF 2026
Kontroversi Kasus Kartu Merah Balogun di Piala Dunia 2026
Intervensi terhadap keputusan disiplin pertandingan di turnamen akbar menjadi salah satu poin gugatan paling krusial yang disoroti.
Dalam berkas laporannya, FairSquare secara spesifik menyoroti kebijakan penangguhan hukuman bagi Folarin Balogun selaku salah satu pemain andalan tim nasional Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut membuat Balogun tetap bisa bermain pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 meskipun sempat diganjar kartu merah langsung pada laga sebelumnya.
Meskipun belakangan diketahui ada keterlibatan sosok lain di belakang putusan tersebut, Infantino tetap menjadi sorotan utama karena statusnya sebagai Presiden FIFA.
Aroma intervensi semakin menguat setelah Donald Trump sempat mengaku telah berkomunikasi lewat sambungan telepon dengan Infantino guna membahas sanksi kartu merah Balogun.
Poin lain yang ikut digugat adalah langkah Infantino mempromosikan laman penggemar resmi FIFA yang diduga kuat terafiliasi dengan proyek kampanye pengumpulan data politik Trump.
Infantino sendiri sempat berdalih bahwa komunikasi intensif tersebut merupakan hal yang wajar mengingat status Amerika Serikat sebagai pihak tuan rumah penyelenggara Piala Dunia.
Baca Juga: Tumbang dari SAETA, Livia Falcons ID Optimistis Bangkit Lawan Aurora Gaming Mongolia
Rentetan Gugatan Etik dan Respons Resmi dari Pimpinan IOC
Penghargaan kontroversial di masa lalu kian memperkeruh opini publik setelah terjadinya eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah.
Jauh sebelum kasus ini mencuat ke permukaan, FairSquare sebenarnya telah melayangkan gugatan ke Komite Etik FIFA saat Infantino menganugerahkan Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Trump pada Desember 2025.
Langkah tersebut dinilai sangat tidak selaras, terlebih setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan aksi serangan militer ke Iran.
Menanggapi polemik yang berkembang, Presiden IOC Kristy Coventry pada pekan lalu sempat membuka suara terkait kejelasan status hukum dari laporan tersebut.
Pihak IOC menegaskan adanya kemungkinan bagi komite etik untuk memeriksa Infantino secara intensif menyusul adanya berkas aduan resmi yang masuk.
Dengan masuknya dokumen gugatan dari FairSquare ini, posisi Infantino sebagai anggota IOC kini berada dalam ancaman sanksi disiplin organisasi yang serius.
Publik sepak bola internasional kini tengah menunggu langkah konkret dari komite etik untuk membersihkan nama baik kompetisi dari intervensi politik praktis. (naz)
Editor : Mizan Ahsani