Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah euforia dan selebrasi sepak bola Piala Dunia 2026, terdapat sisi lain yang mengkhawatirkan. Di Inggris, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dilaporkan cenderung meningkat ketika tim nasional sedang bertanding.
Fenomena ini bukan sekedar dugaan. Berbagai penelitian akademik, data kepolisian, hingga laporan organisasi pendamping korban menunjukkan pola yang berulang selama berlangsungnya kompetisi sepak bola internasional.
Para peneliti pun menegaskan bahwa sepak bola bukan penyebab utama KDRT, melainkan menjadi faktor pemicu yang dapat memperparah perilaku pelaku yang memang sudah memiliki kecenderungan melakukan kekerasan.
Baca Juga: Bukan Cuma Kalah, Argentina Kini Terancam Sanksi Berat FIFA Usai Kericuhan Final
Hasil Penelitian: Kasus KDRT Naik Saat Timnas Inggris Bertanding
Salah satu penelitian yang paling banyak dikutip berasal dari Lancaster University pada 2013. Studi tersebut menganalisis laporan KDRT di Lancashire, Inggris, selama beberapa turnamen sepak bola internasional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat sekitar 26 persen ketika Timnas Inggris bertanding dan pertandingan berakhir dengan kemenangan atau hasil imbang. Bahkan, angka tersebut dapat melonjak hingga 38 persen apabila Timnas Inggris mengalami kekalahan.
Temuan ini menunjukkan adanya pola peningkatan laporan KDRT selama pertandingan sepak bola internasional, terutama ketika hasil pertandingan tidak sesuai dengan harapan dan memicu emosi yang lebih tinggi di kalangan sebagian penonton.
Sepak Bola Bukan Penyebab Utama KDRT
Emosi yang Memuncak Menjadi Faktor Risiko
Pertandingan penting sering memicu emosi yang sangat kuat. Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, sebagian penonton akan mengalami frustasi atau kemarahan yang sulit dikendalikan.
Bagi individu yang telah memiliki kecenderungan melakukan kekerasan, kondisi emosional tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya KDRT.
Konsumsi Alkohol Memperburuk Situasi
Turnamen sepak bola juga identik dengan acara menonton bersama yang sering disertai konsumsi minuman berakohol. Berbagai penelitian menunjukkan alkohol dapat menurunkan kontrol diri dan memperbesar kemungkinan terjadinya tindakan agresif.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa alkohol bukan penyebab utama kekerasan. Tanggung jawab tetap berada pada pelaku.
Data Terbaru Menunjukkan Pola yang Masih Berulang
Laporan yang dikutip oleh BBC setelah UEFA Euro 2024 memperlihatkan adanya 351 insiden KDRT terkait sepak bola yang tercatat oleh kepolisian di Inggris dan Wales selama turnamen berlangsung.
Angka tersebut berasal dari laporan resmi yang diterima aparat penegak hukum. Namun, berbagai organisai perlindungan korban memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Rise UK memperkirakan hanya sekitar 24 persen kasus KDRT yang akhirnya dilaporkan kepada polisi. Banyak korban memilih diam karena rasa takut, malu, tekanan dari pelaku, atau khawatir situasi akan semakin memburuk apabila mereka melapor.
Organisasi Perlindungan Korban Bersiap Selama Piala Dunia
Melihat pola yang terus berulang, berbagai lembaga di Inggris meningkatkan kewaspadaan setiap kali turnamen besar berlansung.
Crown Prosecution Service, kepolisian, serta organisasi seperti Women's Aid telah meyatakan kesiapan mereka menghadapi kemungkinan peningkatan laporan KDRT selama Piala Dunia 2026. Langkah yang dilakukan antara lain memperkuat layanan banuan, meningkatkan kampanye kesadaran publik, serta mempeluas akses pendampingan bagi korban.
Permintaan Bantuan Ikut Meningkat
Selain data kepolisian, organisasi pendamping korban juga melaporkan lonjakan permintaan bantuan.
Kampanye The Unspoken Stat mencatat bahwa Leeds Women's Aid menerima peningkatan sekitar 73 persen panggilan bantuan dalam waktu 48 jam setelah kemenangan pertama Timnas Inggris atas Kroasia pada salah satu turnamen internasional.
Meskipun data tersebut didapan bukan dari statistik kriminal nasional, tetaoi dapat menunjukkan bahwa semakin banyak korban mencari bantuan ketika turnamen berlangsung.
Baca Juga: Game Indie Ini Viral karena Lawan AI, Meccha Chameleon Buktikan Karya Manusia Masih Tak Tergantikan
Mengapa Fenomena Ini Perlu Dipahami?
Fenomena meningkatnya laporan KDRT selama turnamen sepak bola menunjukkan bahwa olahraga tidak bisa dipisahkan dari dinamikan sosial yang lebih luas.
Para peneliti menekankan bahwa menyalahkan sepak bola adalah kesimpulan yang keliru. Yang perlu menjadi perhatial adalah faktor-faktor yang memperbesar risiko kekerasan, seperti budaya maskulinitas yang toksik, tekanan emosional, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan riwayat perilaku abusif yang sebelumnya sudah ada.
Karena itu, upaya pencegahan harus difokuskan pada edukasi, peningkatan kesadaran masyarakat, serta memastikan korban memilki akses terhadap layanan perlindungan yang aman dan mudah dijangkau.(*)
Sabrina Ika Ayu Wardhani - Universitas Brawijaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260612144719-33-742384/banyak-wanita-babak-belur-tiap-timnas-bola-bertanding-ada-apa, https://amira.co.id/world-cup-dan-meningkatnya-kdrt-di-inggris