Dari Rugi Rp285 Miliar per Musim, Bagaimana Como 1907 Kini Ditaksir Rp19 Triliun?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:25 WIB
Mirwan Suwarso, perwakilan Grup Djarum di Como 1907 (bola.com)
Mirwan Suwarso, perwakilan Grup Djarum di Como 1907 (bola.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Como 1907 menjadi salah satu fenomena paling menarik dalam industri sepak bola Eropa belakangan ini.

Klub asal Italia yang dimiliki keluarga Hartono lewat Djarum Group ini tak hanya sukses menembus papan atas Serie A, tetapi juga membangun model bisnis yang jauh berbeda dari kebanyakan klub sepak bola dunia.

Di balik transformasi ini, ada sosok Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, yang justru berlatar belakang industri kreatif dan pemasaran, bukan dunia sepak bola profesional.

Bermula dari Kerugian Besar di Serie B

Dalam podcast Business of Sport, Mirwan mengungkap bahwa sejak awal mereka sadar Como tak bisa bertahan hanya dengan mengandalkan bisnis sepak bola konvensional.

Saat masih berlaga di Serie B, pendapatan hak siar televisi klub hanya sekitar Rp95 miliar per musim, sementara biaya operasional mencapai Rp209 miliar hingga Rp285 miliar jelas merugi.

Kondisi makin sulit karena kapasitas stadion Como hanya sekitar 5.000 penonton, jauh lebih kecil dibanding klub lain.

Baca Juga: €60 Juta untuk Nico Paz: Como Resmi Beli Wonderkid Real Madrid, Los Blancos Siapkan Buyback Mahal

Ide Muncul dari Wisatawan Inggris

Titik balik strategi bisnis Como muncul dari pengamatan sederhana: rombongan wisatawan Inggris yang awalnya ingin menonton AC Milan justru menyaksikan pertandingan Como karena Milan sedang bertanding tandang. Pengalaman itu membuat mereka jadi pendukung setia Como.

Dari situlah muncul pertanyaan yang mengubah arah bisnis klub, apakah Como bisa menjelma bukan sekadar klub sepak bola, melainkan destinasi wisata olahraga.

Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Pertandingan

Sejak saat itu, Como mengubah fokus bisnisnya dari menjual pertandingan sepak bola menjadi menjual pengalaman menikmati Kota Como itu sendiri.

Konsep ini memengaruhi hampir seluruh lini bisnis klub, mulai dari pemasaran, desain merchandise, pengembangan stadion, hingga kerja sama komersial.

Dengan fokus membangun pengalaman premium ketimbang mengejar jumlah penonton sebanyak-banyaknya.

Baca Juga: Ditolak Greenwood, Roma Kini Bidik Bintang Como asal Senegal di Bursa Transfer Musim Panas

Lonjakan Pendapatan Merchandise yang Fantastis

Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari lini merchandise. Dalam setahun, pendapatan penjualan produk resmi melonjak dari Rp51,3 miliar menjadi Rp260 miliar, dengan hanya sekitar 38% berasal dari penjualan jersey.

Sisanya datang dari produk gaya hidup seperti koleksi hiking, sailing, running, hingga fashion bertema Lake Como.

Como bahkan menggandeng brand streetwear premium Rhude untuk merilis jersey edisi khusus seharga Rp5,2 juta per unit, jauh di atas harga jersey reguler sekitar Rp1,8 juta.

Dan 2.000 unit terjual habis hanya dalam hitungan hari, dengan seluruh keuntungan disumbangkan untuk yayasan leukemia anak.

Sponsor Tak Sekadar Logo di Jersey

Pendekatan Como terhadap sponsor juga unik, seperti kemitraan dengan Uber yang tak hanya soal logo di jersey, tapi juga mencakup pengelolaan layanan Uber Boat dan Uber Maserati di kawasan Danau Como.

Pendapatan sponsor utama jersey pun melonjak dari Rp14,25 miliar menjadi lebih dari Rp190 miliar.

Konsep Multi-Club Servicing yang Unik

Berbeda dari banyak investor yang membeli beberapa klub sekaligus, Como justru menawarkan jasa bisnis ke klub lain, mulai dari pengelolaan merchandise, toko resmi, e-commerce, hingga distribusi produk fashion.

Model berbagi pendapatan ini sudah menarik minat 14 klub dari Inggris, Prancis, Timur Tengah, hingga MLS.

Baca Juga: Siapa Cherif Fofana? Talenta Muda yang Mendadak Dipanggil Mourinho ke Skuad Senior Real Madrid

Ditawar Ratusan Juta Euro, Tetap Ditolak

Berkat kesuksesan ini, sejumlah investor sempat mendekati untuk membeli Como, namun ditolak. Mirwan menyebut valuasi klub kini mendekati Rp19 triliun angka yang biasanya hanya dimiliki klub-klub elite Liga Inggris.

Ia menegaskan ambisinya menjadikan Como sebagai perusahaan olahraga dan hiburan global, dengan filosofi sederhana: ingin menjadi seperti Disney. (*)

*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : indonesiainside.com
djarum group serie a mirwan suwarso Como 1907 Nico Paz