Jawa Pos Radar Madiun - Shin Tae-yong akhirnya buka suara setelah dirinya secara resmi dijatuhi sanksi super berat oleh Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA).
Pelatih yang kini menukangi Persija Jakarta itu secara terang-terangan merasa ada banyak hal yang tidak adil dalam putusan tersebut.
Namun, ia memilih menahan diri untuk tidak mengungkap seluruh borok persoalan ke publik.
Sebelumnya, KFA resmi menjatuhkan sanksi tegas kepada Shin Tae-yong alias STY menyusul serangkaian kontroversi yang membelitnya saat ia menukangi klub Ulsan HD.
Karier pelatih berusia 55 tahun itu di Ulsan HD terbilang sangat singkat.
Ia tercatat hanya mampu bertahan selama 65 hari sebelum akhirnya resmi diberhentikan dari jabatannya pada bulan Agustus tahun lalu.
Baca Juga: Jurgen Klopp Resmi Jadi Pelatih Baru Timnas Jerman Gantikan Julian Nagelsmann
Kronologi Kasus STY dan hingga Dijatuhi Sanksi Berat
Kasus yang menyeret STY ini diketahui berkaitan erat dengan dinamika hubungannya dengan para pemain, dugaan tindakan penyerangan secara fisik, hingga isu miring soal bermain golf ketika tim menjalani laga tandang krusial.
Merespons hal tersebut, Pusat Etika Olahraga di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan langsung turun tangan memproses kasus tersebut.
Setelah proses investigasi rampung, KFA lantas menggelar rapat Komite Fair Play untuk menentukan ketok palu sanksi final.
Hasilnya, STY dijatuhi hukuman yang luar biasa berat.
Ia diganjar penangguhan kualifikasi hingga 10 tahun, larangan mengikuti kompetisi, hingga bayang-bayang kemungkinan pengusiran secara permanen dari segala aktivitas sepak bola di tanah Korea Selatan.
Meski begitu, sanksi tegas tersebut dipastikan hanya berlaku mutlak di wilayah yurisdiksi Korea.
Baca Juga: Profil Kuntadi, Jampidsus Baru Pengganti Febrie Adriansyah: Pernah Tangani Kasus Harvey Moeis
Merasa Tak Adil, Tetap Fokus di Persija
Menanggapi hukuman bertubi-tubi tersebut, STY mengaku merasa keputusan itu tidak sepenuhnya adil bagi dirinya.
Ia enggan membeberkan seluruh fakta yang sebenarnya terjadi di ruang ganti Ulsan HD karena merasa khawatir hal itu justru akan berdampak buruk dan melukai orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
"Ada banyak aspek yang menurut saya tidak adil, dan saya ingin mengungkapkan kebenaran, tetapi murid-murid saya bisa terluka jika saya berbicara, dan suasana sepak bola domestik tidak baik," ujar STY mengutip Channel A.
Di sisi lain, sanksi 10 tahun dari KFA ini dipastikan sama sekali tidak akan menghalangi langkah Shin untuk terus menjalankan tugas barunya sebagai juru taktik Persija Jakarta.
Karena hukuman tersebut hanya berlaku eksklusif di ekosistem sepak bola Korea, ia tetap berhak dan sah memimpin skuad Macan Kemayoran untuk mengarungi kerasnya kompetisi domestik musim 2026-2027. (naz)
Editor : Mizan Ahsani