Jawa Pos Radar Madiun - Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengumumkan rencana mengejutkan untuk membentuk perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi awal mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp327 triliun.
Perusahaan ini nantinya akan mengelola sisi komersial kompetisi besar FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Rencana ini pertama kali dilaporkan The Times of London dan Financial Times, sebelum akhirnya dikonfirmasi resmi oleh FIFA pada Selasa (28/07).
Skema Pendanaan Bersama JP Morgan dan Keluarga Kushner
FIFA menyebut FFE ditargetkan mengumpulkan dana hingga 4,2 miliar dolar AS akhir tahun ini untuk mendanai program pengembangan sepak bola global, dengan menggandeng bank investasi JP Morgan sebagai mitra utama.
Salah satu calon investor yang disebut adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi milik Joshua Kushner adik dari Jared Kushner, menantu sekaligus utusan Presiden AS Donald Trump.
Skema ini dirancang dengan menjual saham minoritas non-pengendali kepada investor jangka panjang terpilih.
Iming-Iming Dana Pengembangan untuk 211 Anggota FIFA
Sebagai bagian dari strategi meraih dukungan, FIFA menjanjikan kenaikan signifikan dana pengembangan lewat program "FIFA Fast-Forward" bagi 211 asosiasi anggotanya hingga 2038.
Jika sebelumnya masing-masing anggota dijanjikan 8 juta dolar AS per siklus komersial 2027-2030, dengan skema baru ini angkanya akan naik menjadi 20 juta dolar, lalu 22 juta dolar, dan 24 juta dolar di siklus-siklus berikutnya.
UEFA Murka, Sebut Sepak Bola Bukan untuk Dijual
Rencana ini langsung mendapat kecaman keras dari badan sepak bola Eropa, UEFA. Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan Piala Dunia bukanlah aset milik FIFA untuk dijual, dan tidak ada satu pihak pun yang berhak mengklaim kepemilikan atas sepak bola.
Kritik keras juga datang dari Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, yang menegaskan sepak bola bukan milik para investor, melainkan milik masyarakat yang selama ini setia memenuhi tribun stadion dan mendukung tim mereka.
Baca Juga: Bukan Cuma Kalah, Argentina Kini Terancam Sanksi Berat FIFA Usai Kericuhan Final
Tuduhan Korupsi dan Konflik Kepentingan
Sejumlah anggota parlemen AS dari Partai Demokrat turut melayangkan kritik tajam, menyebut rencana ini sebagai bagian dari pola korupsi oligarki, terlebih usai kebijakan dynamic pricing FIFA sebelumnya sempat membuat harga tiket Piala Dunia melonjak drastis.
Mereka bahkan sebelumnya sudah meminta Infantino menjelaskan dugaan praktik tiket yang dinilai menyesatkan serta kedekatannya dengan Trump.
Bukan Kali Pertama Infantino Coba Skema Serupa
Menariknya, ini bukan kali pertama Infantino mencoba mendorong kesepakatan bernilai miliaran dolar dengan investor swasta sepanjang 11 tahun masa kepemimpinannya.
Pada 2018, ia sempat mengajukan proposal senilai 25 miliar dolar AS selama 12 tahun bersama SoftBank asal Jepang untuk membentuk kompetisi global baru, yang diduga didukung dana Arab Saudi.
Rencana tersebut akhirnya gagal usai mendapat penolakan keras dari UEFA, yang saat itu khawatir aset berharga mereka seperti Liga Champions dan Piala Eropa ikut terancam.
Rekam Jejak Kedekatan dengan Arab Saudi
Meski proposal SoftBank gagal, Infantino tetap berhasil mempererat hubungan dengan sepak bola Arab Saudi dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Arab Saudi sendiri kini tercatat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 dan menjadi salah satu penyokong dana utama revitalisasi Piala Dunia Antarklub yang digelar di Amerika Serikat tahun lalu.
Baca Juga: Bukan Beli Mahal, Arsenal Justru Incar Bek Gratisan Pengalaman Piala Dunia
Dana Rekor dari Piala Dunia 2026
Sebagai catatan, FIFA sendiri baru saja mencatatkan pendapatan rekor sekitar 12 miliar dolar AS dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang baru berakhir dengan kemenangan Spanyol atas Argentina di partai final.
Besarnya pendapatan ini turut memperkuat sorotan publik terhadap urgensi sebenarnya di balik rencana privatisasi FFE, mengingat FIFA sejatinya sudah meraup keuntungan besar tanpa perlu melibatkan investor swasta luar. (*)
*Dwiki Dermawan, Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : CBC, ABC News