Jawa Pos Radar Madiun - Kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia FIFA 2026 memang mengantarkan mereka meraih hadiah sebesar 50 juta dolar AS atau sekitar Rp895 miliar.
Namun, sebagian besar hadiah tersebut berpotensi tergerus pajak federal Amerika Serikat, dengan potongan mencapai 30% atau setara 15 juta dolar AS (sekitar Rp268,5 miliar) yang berpotensi melayang ke kas negara.
Aturan IRS bagi Atlet Asing
Berdasarkan hukum perpajakan AS, pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan di wilayah Amerika Serikat pada dasarnya bersifat kena pajak oleh IRS (Internal Revenue Service).
Untuk atlet asing non-residen, tarif pemotongan pajak federal default mencapai 30%, kecuali dikurangi lewat perjanjian pajak bilateral (tax treaty) atau pengecualian khusus lainny
Pemain dengan penghasilan besar sebenarnya punya opsi lain lewat skema Central Withholding Agreement (CWA), yang memungkinkan pemotongan pajak dihitung berdasarkan estimasi pendapatan bersih dengan tarif bertingkat, bukan langsung dipotong 30% di muka, asalkan pengajuannya dilakukan minimal 45 hari sebelum laga pertama di AS.
Beban Tambahan: "Jock Tax" di Level Negara Bagian
Selain pajak federal, para pemain juga menghadapi apa yang disebut "jock tax", pajak negara bagian yang dikenakan pada atlet mancanegara berdasarkan penghasilan yang terkait langsung dengan aktivitas kerja mereka di negara bagian tersebut.
Mengingat Spanyol memainkan tujuh dari delapan laga mereka di wilayah Amerika Serikat, termasuk laga final di New Jersey, mereka juga berpotensi dikenakan pajak tambahan hingga 10,75% dari New Jersey.
Yang membuat situasi ini makin rumit, New Jersey diketahui tidak mengakui perjanjian pajak internasional, artinya pemain dari negara yang punya tax treaty dengan AS pun tetap wajib membayar pajak negara bagian ini. Berdasarkan estimasi National Taxpayers Union, total tarif pajak gabungan yang dihadapi tim bisa mencapai rata-rata 31,66%.
Berbeda Jauh dari Piala Dunia Qatar 2022
Situasi ini sangat kontras dibanding Piala Dunia Qatar 2022, di mana FIFA berhasil mengamankan status bebas pajak penuh bagi seluruh hadiah turnamen.
Meski FIFA sendiri berhasil melobi status bebas pajak federal untuk organisasi dan federasi nasional lewat ketentuan 501(c) kode pajak AS, status bebas pajak ini tidak berlaku bagi individu pemain, pelatih, maupun staf tim, mereka semua harus menanggung kewajiban pajak masing-masing.
Kritik Bipartisan dari Kongres AS
Kebijakan ini memicu kritik lintas partai di parlemen AS. Anggota Kongres dari Partai Republik, Tim Burchett, secara terbuka menyebut kebijakan ini sebagai bentuk "perampokan" (rip-off), meski ia mengakui aturan ini juga berlaku sama bagi atlet profesional Amerika sendiri.
Ia menambahkan kebijakan pajak setinggi ini justru mengirim pesan yang salah, mengingat AS tengah bersiap menjadi tuan rumah lebih banyak ajang olahraga internasional besar ke depannya, dan seharusnya mendorong atlet asing untuk lebih banyak berbelanja di dalam negeri, bukan malah dibebani pajak berat.
Kritik senada juga datang dari anggota Kongres Partai Demokrat, Jonathan Jackson, yang menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari persoalan sistem pajak yang lebih besar.
Pemain Spanyol Juga Masih Kena Pajak di Dalam Negeri
Cerita perpajakan ini rupanya belum berakhir sampai di situ. Berdasarkan laporan firma hukum RCM Legal, 17 dari 26 pemain Timnas Spanyol juga tetap wajib membayar pajak di negara asal mereka.
Mengingat status residen pajak mereka di Spanyol yang mengenakan pajak atas seluruh penghasilan global, termasuk pemain seperti Lamine Yamal yang berstatus pemain klub Spanyol, FC Barcelona. (*)
*Dwiki Dermawan, Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : Fortune, The Sports Cast