Juara Dunia Tapi Rp268 Miliar Melayang: Kenapa Hadiah Piala Dunia di Amerika Tak Lagi Bebas Pajak?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 11:30 WIB
Momen kemenangan timnas spanyol dalam pelgelaran Piala Dunia 2026, setelah menang 1-0 atas Argentina (world cup)
Momen kemenangan timnas spanyol dalam pelgelaran Piala Dunia 2026, setelah menang 1-0 atas Argentina (world cup)

Jawa Pos Radar Madiun - Kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia FIFA 2026 memang mengantarkan mereka meraih hadiah sebesar 50 juta dolar AS atau sekitar Rp895 miliar.

Namun, sebagian besar hadiah tersebut berpotensi tergerus pajak federal Amerika Serikat, dengan potongan mencapai 30% atau setara 15 juta dolar AS (sekitar Rp268,5 miliar) yang berpotensi melayang ke kas negara.

Aturan IRS bagi Atlet Asing

Berdasarkan hukum perpajakan AS, pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan di wilayah Amerika Serikat pada dasarnya bersifat kena pajak oleh IRS (Internal Revenue Service).

Untuk atlet asing non-residen, tarif pemotongan pajak federal default mencapai 30%, kecuali dikurangi lewat perjanjian pajak bilateral (tax treaty) atau pengecualian khusus lainny

Baca Juga: UEFA Murka! Infantino Coba Jual Aset Piala Dunia ke Investor Asing, Ini Skema Kontroversial di Balik FIFA Forward Enterprise

Pemain dengan penghasilan besar sebenarnya punya opsi lain lewat skema Central Withholding Agreement (CWA), yang memungkinkan pemotongan pajak dihitung berdasarkan estimasi pendapatan bersih dengan tarif bertingkat, bukan langsung dipotong 30% di muka, asalkan pengajuannya dilakukan minimal 45 hari sebelum laga pertama di AS.

Beban Tambahan: "Jock Tax" di Level Negara Bagian

Selain pajak federal, para pemain juga menghadapi apa yang disebut "jock tax", pajak negara bagian yang dikenakan pada atlet mancanegara berdasarkan penghasilan yang terkait langsung dengan aktivitas kerja mereka di negara bagian tersebut.

Mengingat Spanyol memainkan tujuh dari delapan laga mereka di wilayah Amerika Serikat, termasuk laga final di New Jersey, mereka juga berpotensi dikenakan pajak tambahan hingga 10,75% dari New Jersey.

Yang membuat situasi ini makin rumit, New Jersey diketahui tidak mengakui perjanjian pajak internasional, artinya pemain dari negara yang punya tax treaty dengan AS pun tetap wajib membayar pajak negara bagian ini. Berdasarkan estimasi National Taxpayers Union, total tarif pajak gabungan yang dihadapi tim bisa mencapai rata-rata 31,66%.

Berbeda Jauh dari Piala Dunia Qatar 2022

Situasi ini sangat kontras dibanding Piala Dunia Qatar 2022, di mana FIFA berhasil mengamankan status bebas pajak penuh bagi seluruh hadiah turnamen.

Meski FIFA sendiri berhasil melobi status bebas pajak federal untuk organisasi dan federasi nasional lewat ketentuan 501(c) kode pajak AS, status bebas pajak ini tidak berlaku bagi individu pemain, pelatih, maupun staf tim, mereka semua harus menanggung kewajiban pajak masing-masing.

Baca Juga: 11 Penyelamatan di Final Tetap Tak Cukup, Begini Curhat Dibu Martinez usai Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026

Kritik Bipartisan dari Kongres AS

Kebijakan ini memicu kritik lintas partai di parlemen AS. Anggota Kongres dari Partai Republik, Tim Burchett, secara terbuka menyebut kebijakan ini sebagai bentuk "perampokan" (rip-off), meski ia mengakui aturan ini juga berlaku sama bagi atlet profesional Amerika sendiri.

Ia menambahkan kebijakan pajak setinggi ini justru mengirim pesan yang salah, mengingat AS tengah bersiap menjadi tuan rumah lebih banyak ajang olahraga internasional besar ke depannya, dan seharusnya mendorong atlet asing untuk lebih banyak berbelanja di dalam negeri, bukan malah dibebani pajak berat.

Kritik senada juga datang dari anggota Kongres Partai Demokrat, Jonathan Jackson, yang menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari persoalan sistem pajak yang lebih besar.

Pemain Spanyol Juga Masih Kena Pajak di Dalam Negeri

Cerita perpajakan ini rupanya belum berakhir sampai di situ. Berdasarkan laporan firma hukum RCM Legal, 17 dari 26 pemain Timnas Spanyol juga tetap wajib membayar pajak di negara asal mereka.

Mengingat status residen pajak mereka di Spanyol yang mengenakan pajak atas seluruh penghasilan global, termasuk pemain seperti Lamine Yamal yang berstatus pemain klub Spanyol, FC Barcelona. (*)

*Dwiki Dermawan, Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Fortune, The Sports Cast
amerika serikat donald trump spanyol Piala Dunia 2026