Jawa Pos Radar Madiun - Gelombang kritik terhadap tata kelola FIFA datang dari tiga konfederasi sepak bola sekaligus.
AFC, UEFA, dan Concacaf melayangkan surat terbuka yang mempertanyakan kepemimpinan federasi sepak bola dunia tersebut setelah munculnya polemik proyek FIFA Forward Enterprise (FFE).
Ketiga konfederasi menolak rencana FFE yang disebut membuka peluang penjualan saham komersial terkait hak penyelenggaraan Piala Dunia kepada pihak swasta.
Langkah tersebut dinilai berpotensi mengancam integritas serta independensi Piala Dunia, turnamen yang akan memasuki usia satu abad pada 2030.
"Sepak bola adalah milik para pemain, suporter, klub, asosiasi anggota, serta setiap institusi yang dipercaya menjaga masa depannya. Dalam semangat itulah, sebagai konfederasi yang mewakili para anggotanya, kami berbicara secara kolektif hari ini," tulis AFC, UEFA, dan Concacaf dalam surat yang dimuat di laman Concacaf, Senin (10/8).
Meski FIFA akhirnya membatalkan rencana FFE, polemik tersebut dianggap belum benar-benar selesai. Bagi ketiga konfederasi, persoalan yang muncul lebih besar daripada sekadar nasib proyek tersebut.
Sorotan kini mengarah pada tata kelola dan kepemimpinan FIFA di bawah Presiden Gianni Infantino.
AFC, UEFA, dan Concacaf menilai kepemimpinan FIFA seharusnya merupakan bentuk pengabdian kepada seluruh keluarga sepak bola. Kepercayaan dari anggota menjadi fondasi penting dalam menjalankan organisasi.
"Ketika kepercayaan dihancurkan melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kolektif yang telah memberinya kewenangan, maka tugas pengabdian tersebut telah ditinggalkan," tulis ketiga konfederasi.
Baca Juga: Hyundai Hillstate Ditantang Wonder Dogs Besutan Ratu Voli Korea: Megawati Hangestri Debut?
Bukan Sekadar Masalah Komunikasi
Ketegangan semakin tajam setelah FIFA sebelumnya mengakui adanya kesalahan dalam proses pengajuan rencana tersebut. Namun, AFC, UEFA, dan Concacaf menilai respons itu belum menyentuh akar persoalan.
Menurut mereka, kontroversi FFE bukan sebatas kegagalan komunikasi, melainkan juga menyangkut proses pengambilan keputusan.
Proyek tersebut diumumkan FIFA pada 28 Juli 2026. Hanya berselang beberapa hari, rencana itu kemudian dibatalkan setelah mendapat penolakan dari berbagai organisasi sepak bola internasional.
"FIFA juga tidak mengakui bahwa proposal tersebut pada dasarnya memang keliru," lanjut surat tersebut.
Ketiga konfederasi juga mempertanyakan pertemuan pimpinan FIFA di Maroko. Pertemuan itu disebut hanya melibatkan sejumlah anggota komite manajemen tanpa kehadiran anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota.
Kondisi tersebut justru dinilai semakin memperkuat kekhawatiran mengenai tata kelola organisasi sepak bola dunia tersebut.
Baca Juga: Update Ranking FIVB Terbaru, Timnas Voli Putri Indonesia Naik 4 Tingkat
Desak Kepemimpinan FIFA Lebih Terbuka
AFC, UEFA, dan Concacaf kemudian menyoroti pentingnya transparansi dan pertanggungjawaban dalam kepemimpinan FIFA.
"Ada keheningan ketika seharusnya ada pertanggungjawaban. Ada jarak ketika seharusnya ada keterbukaan. Itu bukanlah kualitas yang layak dimiliki oleh kepemimpinan sepak bola," tulis mereka.
Surat terbuka tersebut sekaligus memperlihatkan sikap kolektif tiga konfederasi terhadap arah pengelolaan FIFA.
Mereka menginginkan prinsip kebersamaan kembali menjadi dasar dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan sepak bola internasional.
Terlebih, persoalan tersebut menyentuh Piala Dunia, kompetisi terbesar FIFA yang memiliki nilai historis sekaligus komersial sangat besar.
Karena itu, pembatalan FFE tidak serta-merta mengakhiri kritik. AFC, UEFA, dan Concacaf meminta FIFA mengembalikan kepercayaan melalui kepemimpinan yang lebih terbuka dan mengutamakan kepentingan sepak bola.
"Kini, kami menyerukan agar persatuan tersebut dihormati, demi kepemimpinan yang mengabdi kepada sepak bola, bukan kepemimpinan yang berusaha mengendalikan sepak bola," tutup ketiga konfederasi tersebut. (naz)
Editor : Mizan Ahsani