IBK Altos Ogah Bergantung pada Victoria Danchak, Calon Lawan Sengit Klub Megawati?

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:35 WIB
Victoria Danchak menjadi pemain kunci bagi IBK Altos di liga voli Korea musim lalu.
Victoria Danchak menjadi pemain kunci bagi IBK Altos di liga voli Korea musim lalu.

Jawa Pos Radar Madiun – Ketergantungan IBK Industrial Bank Altos terhadap pemain asing bakal dikurangi drastis. Pelatih anyar Masayoshi Manabe mulai membangun sistem permainan baru menjelang Liga Voli Korea 2026/2027 dengan satu kata kunci: distribusi.

Manabe tak ingin serangan IBK terus bertumpu kepada Victoria Danchak. Pelatih asal Jepang tersebut bahkan menargetkan porsi serangan pemain asing andalannya itu hanya sekitar 25 persen.

Konsekuensinya, peran setter menjadi semakin krusial. Mereka dituntut mampu membaca permainan, mendistribusikan bola ke lebih banyak opsi serangan, dan membuat pola ofensif IBK lebih sulit ditebak lawan.

Perubahan tersebut kini sedang dirasakan langsung Park Eun-seo. Setter IBK itu menyebut metode latihan Manabe membuatnya seperti mempelajari kembali detail permainan di posisinya.

“Saya mempelajari hal-hal baru. Menarik. Menyenangkan karena saya memainkan ‘voli dengan berpikir’. Latihan pramusim biasanya berat dan membosankan, tetapi sekarang saya merasa berkembang setiap hari. Sampai-sampai saya ingin segera bermain dalam pertandingan,” kata Park Eun-seo dikutip dari Sports Seoul.

Tak pelak, perubahan ini memantik optimisme di kalangan para fans dalam menyambut musim baru V-League. Terlebih tim kompetitor terus berbenah dengan mendatangkan pemain elit.

Sebut saja Hyundai Hillstate yang merekrut mantan pemain Red Sparks, Megawati Hangestri.

Baca Juga: Pembagian Grup ACL 2 2026/2027: Persib Masuk Grup E jika Lolos Playoff Lawan Manila Digger

Park Eun-seo Antusias Sambut Manabe

Kedatangan Manabe membawa perubahan besar dalam latihan para setter IBK.

Sebagai mantan setter tim nasional, Manabe memberikan perhatian terhadap detail teknis. Mulai penggunaan tubuh, gerakan kaki, arah badan hingga kecepatan umpan.

Bagi Park Eun-seo, kesempatan belajar langsung dari pelatih yang membawa pendekatan voli Jepang tersebut sangat berharga.

“Saya selalu ingin mempelajari voli Jepang dan ternyata sesuai dengan yang saya bayangkan. Pelatih benar-benar seperti anugerah,” ujarnya.

Park mengaku belum sepenuhnya menguasai metode baru tersebut. Namun, ia mulai merasakan perubahan pada akurasi maupun kecepatan umpannya.

Menariknya, Manabe tidak membangun perubahan dengan menambah volume latihan secara berlebihan.

Park menyebut sang pelatih lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Setiap sesi menuntut konsentrasi tinggi sehingga pemain harus mempertahankan fokus sepanjang latihan.

Para setter juga aktif berdiskusi mengenai postur dan teknik masing-masing serta saling membantu melakukan koreksi.

Baca Juga: Daftar Pemain Timnas Voli Putri Indonesia untuk Kejuaraan Asia 2026: Syelomitha Out, Khanza Putri Masuk

Posisi Setter Jadi Titik Krusial IBK

Perubahan itu penting karena posisi setter selama ini menjadi salah satu sektor yang mendapat sorotan di IBK.

Klub bahkan pernah menggunakan kuota Asia untuk memperkuat posisi tersebut. Kondisi itu turut melecut harga diri Park Eun-seo.

“Tentu saja saya kesal. Tetapi, tidak bisa dikatakan bahwa penilaian itu salah. Itu menjadi stimulus dan motivasi. Saya hanya berpikir harus bekerja lebih keras,” katanya.

Park ingin membalik penilaian tersebut lewat performa di lapangan.

“Para setter harus bermain bagus musim depan agar komentar seperti itu tidak muncul lagi. Sebaliknya, saya ingin mendengar orang mengatakan kami bermain bagus berkat setter,” lanjutnya.

Ia sadar perubahan tidak mungkin tercipta dalam semalam. Namun, setidaknya Park ingin musim 2026/2027 menjadi periode ketika perkembangan permainannya benar-benar terlihat.

Baca Juga: Rayakan HUT ke-81 RI, PowerAce Madiun Buka Servis Gratis Motor Roda Tiga Semua Merek

Tiga Setter Berebut Tempat Utama

Manabe belum menentukan siapa yang bakal menjadi pengatur serangan utama IBK.

Persaingan berlangsung di antara tiga nama, yakni Kim Ha-kyung, Park Eun-seo, dan Choi Yeon-jin.

Park sendiri sempat mendapatkan peran sebagai starter pada paruh kedua musim lalu. Namun, status tersebut tidak otomatis menjamin tempat utama di bawah kepemimpinan pelatih baru.

Dia melihat masing-masing pesaing memiliki karakter berbeda.

Menurut Park, Kim Ha-kyung mempunyai kemampuan membangun koneksi yang baik dengan para penyerang. Sedangkan Choi Yeon-jin mempunyai keunggulan dari ketinggian umpannya.

Park menilai keunggulan pribadinya terletak pada kecepatan kaki dan keberanian mengambil keputusan.

“Saya pikir kaki saya cepat. Saya juga cenderung berani meskipun melakukan kesalahan,” tuturnya.

Manabe juga disebut memuji servis Park. Selain itu, ia terus mengasah kemampuan dig yang menjadi salah satu aspek permainan yang ditekankan sang pelatih.

Persaingan setter tersebut bakal menentukan keberhasilan revolusi permainan IBK.

Dengan porsi serangan Victoria yang ingin ditekan menjadi 25 persen, bola harus lebih banyak dialirkan kepada pemain lain.

IBK memiliki Miwako Osanai sebagai pemain kuota Asia baru. Park juga menilai kualitas barisan middle blocker timnya termasuk yang terbaik di liga.

Artinya, setter mempunyai lebih banyak senjata untuk menjalankan variasi serangan.

Bila distribusi tersebut berjalan efektif, lawan tak lagi cukup berkonsentrasi menghentikan Victoria. IBK bisa membangun ancaman melalui sejumlah titik sekaligus.

Baca Juga: Truk Tronton Mogok di Perlintasan Madiun, 4 Kereta Terlambat hingga 68 Menit

Manabe Langsung Pasang Target Juara

Perubahan besar itu dibarengi target yang tak kalah tinggi. Manabe membidik gelar juara pada musim pertamanya menangani IBK.

Target tersebut disambut optimistis Park Eun-seo. Terlebih, IBK sudah cukup lama tidak merasakan atmosfer playoff.

“Kami sudah lama tidak mencapai playoff. Kali ini kami harus melakukannya,” ujarnya.

Keberadaan Victoria, Osanai, serta kekuatan middle blocker membuat Park percaya IBK mempunyai modal untuk bersaing.

“Saya juga ingin menjadi pusat tim dan memimpinnya dengan baik. Saya berharap ini menjadi musim ketika individu maupun tim sama-sama tampil bagus. Sejujurnya, ekspektasi saya jauh lebih besar daripada kekhawatiran. Kepercayaan saya terhadap tim semakin kuat,” ungkapnya.

Musim baru pun berpotensi memperlihatkan wajah IBK yang berbeda. Victoria masih menjadi senjata utama, tetapi tak lagi diharapkan memikul hampir seluruh beban serangan.

Di tangan Manabe, setter kini mendapat pekerjaan lebih besar: berpikir lebih cepat, memainkan lebih banyak variasi, dan menghidupkan seluruh penyerang.

Jika konsep thinking volleyball itu berjalan sesuai rencana, IBK bisa berubah dari tim yang mudah dibaca menjadi salah satu kekuatan paling menarik di Liga Voli Korea 2026/2027. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
Hyundai Hillstate IBK Altos Megawati Hangestri Victoria Danchak Liga Voli Korea