Jawa Pos Radar Madiun – Korea Selatan boleh pulang tanpa medali dari Kejuaraan Dunia Voli Putri U-17 2026. Namun, mereka membawa pulang satu nama yang semakin layak diperhitungkan sebagai calon bintang masa depan: Son Seo-yeon.
Kapten sekaligus ace timnas voli putri U-17 Korea Selatan itu tampil tajam sepanjang turnamen. Son Seo-yeon mengemas 179 poin, menempatkannya di posisi kedua bersama dalam daftar pencetak poin terbanyak. Dia juga berada di peringkat ketiga dalam kategori penyerang.
Performa tersebut semakin menguatkan julukan Little Kim Yeon-koung yang disematkan kepadanya. Namun, Son Seo-yeon tak ingin sekadar hidup di bawah bayang-bayang Kim Yeon-koung.
Pemain Seonmyeong Girls' High School itu sudah memiliki target karier sendiri, yakni menjadi pemain profesional, menembus tim nasional senior, kemudian bermain di luar negeri.
Jepang menjadi negara yang paling ingin ditujunya.
“Target saya adalah bermain secara profesional dan menjadi pemain tim nasional. Namun, saya juga ingin bermain di luar negeri. Saya benar-benar ingin bermain di Jepang,” tegas Son Seo-yeon.
179 Poin, Nyaris Jadi Top Skor
Son Seo-yeon menjadi salah satu motor utama perjalanan voli putri Korea Selatan hingga finis di posisi keenam dunia.
Korea Selatan tampil sempurna pada fase grup dengan menyapu lima pertandingan dengan kemenangan. Mereka kemudian mengalahkan Filipina pada babak 16 besar dan melaju ke perempat final.
Langkah menuju empat besar terhenti setelah Korea Selatan kalah dari salah satu kekuatan dunia, Turki.
Mereka kemudian menundukkan Thailand pada laga perebutan peringkat kelima hingga kedelapan. Korea Selatan akhirnya menempati posisi keenam setelah kalah dari Italia, tim yang sebelumnya mampu mereka kalahkan pada fase grup.
Meski gagal memenuhi target menembus semifinal, Son Seo-yeon menilai pencapaian tersebut tetap layak diapresiasi. Apalagi Korea Selatan menjadi tim Asia dengan posisi terbaik di turnamen.
“Ini adalah kejuaraan dunia pertama saya. Meski kami tidak meraih medali, saya senang bisa finis di peringkat keenam. Saya berusaha keras untuk menjadi pencetak poin terbanyak sehingga masih ada sedikit penyesalan. Namun, saya rasa kami menjadi tim Asia dengan hasil terbaik di turnamen ini,” ujarnya.
Kekalahan dari Turki Paling Disesali
Dari seluruh pertandingan yang dijalani, Son Seo-yeon menyimpan penyesalan terbesar ketika menghadapi Turki pada perempat final.
Korea Selatan hanya berjarak satu kemenangan dari target awal mereka menembus semifinal. Son Seo-yeon merasa timnya sebenarnya memiliki kesempatan untuk memenangkan pertandingan tersebut.
“Kekalahan di perempat final menjadi yang paling mengecewakan. Itu pertandingan yang sebenarnya bisa kami menangkan, tetapi kami kesulitan beradaptasi dengan perubahan venue sehingga tidak bisa menunjukkan seluruh kemampuan. Saya jadi berpikir, mungkin akan lebih baik jika kami bisa sedikit lebih menikmati pertandingan,” katanya.
Sebaliknya, kemenangan atas Italia pada fase grup menjadi salah satu momen yang paling membekas baginya.
“Kemenangan melawan Italia di fase grup menjadi yang paling membahagiakan. Saya rasa itu karena saat itu saya merasa kami benar-benar harus menang,” ungkapnya.
Baca Juga: Lewat AXIS School Fest 2026, Siswa SMAN 1 Kauman Diajak Bijak Hadapi Informasi Digital
Kapten dan Ace, Bawa Korea Selatan Kompak
Bukan hanya urusan mencetak angka. Son Seo-yeon juga memikul tanggung jawab sebagai kapten.
Skuad Korea Selatan yang tampil pada Kejuaraan Dunia Voli Putri U-17 tersebut telah bersama-sama sekitar dua tahun sejak mengikuti kompetisi U-16 pada tahun sebelumnya. Perjalanan panjang itu membuat kekompakan antarpemain semakin terbangun.
“Kami sudah berlatih dalam waktu yang lama dan bekerja keras sejak tahun lalu. Saya bahkan berpikir mungkin kami adalah pemain-pemain yang paling banyak mengalami kesulitan di level junior,” ujarnya.
Menurut Son Seo-yeon, kesamaan target menjadi salah satu kunci Korea Selatan mampu bersaing dengan tim-tim kuat dunia.
“Saya rasa kami bisa mendapatkan hasil yang baik karena semuanya bersatu dengan target untuk menang dan bekerja keras sampai akhir. Ini juga akan menjadi kenangan yang bagus. Saya selalu berterima kasih kepada mereka,” tambahnya.
Tak Pegang Ponsel, Fokus Penuh ke Pertandingan
Ada cerita menarik di balik performa Son Seo-yeon dan rekan-rekannya. Para pemain Korea Selatan tidak memegang ponsel selama berlangsungnya kompetisi.
Kebijakan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Son Seo-yeon mengaku sudah terbiasa sejak mengikuti turnamen U-16.
Karena minim akses terhadap informasi di luar tim, dia bahkan tidak terlalu menyadari posisinya dalam persaingan pencetak poin terbanyak.
“Karena tidak memegang ponsel, saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui soal persaingan menjadi pencetak poin terbanyak. Sesekali ketika seseorang memberi tahu, saya hanya berpikir, ‘Oh, begitu,’ lalu kembali fokus pada pertandingan,” tuturnya.
Fokus tersebut berbuah 179 poin. Catatan yang sekaligus memperlihatkan besarnya peran Son Seo-yeon dalam serangan Korea Selatan.
Baca Juga: Hasil Alwi Farhan di Kejuaraan Dunia BWF 2026: Kalahkan Wakil India, Lolos ke Perempat Final
Blok Pemain Tinggi Jadi Pekerjaan Rumah
Turnamen dunia juga memberikan gambaran mengenai aspek yang masih harus diperbaiki Son Seo-yeon.
Dia menyadari posturnya tidak terlalu tinggi dibandingkan sejumlah pemain yang dihadapinya. Kondisi tersebut membuat efektivitas serangannya menurun ketika berhadapan dengan blocker berpostur menjulang.
“Karena saya bukan pemain yang sangat tinggi, serangan saya memang lebih sulit ketika menghadapi pemain-pemain bertubuh tinggi. Saya rasa harus lebih banyak belajar bagaimana menembus blok ganda atau menghadapi blocker yang tinggi,” jelasnya.
Kemampuan mengatasi blok tinggi bakal menjadi salah satu aspek krusial apabila Son Seo-yeon ingin melangkah ke level berikutnya. Terlebih, persaingan akan semakin berat ketika dia memasuki kompetisi profesional dan timnas senior.
Akankah Jadi Penerus Kim Yeon-koung?
Julukan Little Kim Yeon-koung tentu membawa ekspektasi tersendiri. Kim Yeon-koung telah menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah voli putri Korea Selatan dengan pengalaman panjang bermain di berbagai kompetisi elite dunia.
Masih terlalu dini untuk menyamakan perjalanan keduanya. Namun, performa Son Seo-yeon pada usia muda menunjukkan potensi yang menarik.
Sebanyak 179 poin di panggung dunia menjadi salah satu bukti awal. Lebih penting lagi, Son Seo-yeon sudah mengetahui aspek permainan yang perlu dikembangkan dan memiliki keberanian memasang target tinggi.
Mimpi menembus Liga Jepang juga menunjukkan bahwa dia tidak hanya membidik panggung domestik. Jika perkembangan tersebut berlanjut, julukan Little Kim Yeon-koung bukan tidak mungkin menjadi pintu masuk menuju lahirnya bintang baru Korea Selatan dengan identitasnya sendiri. (naz)
Editor : Mizan Ahsani