Jawa Pos Radar Madiun – Pelatih AC Milan Ruben Amorim secara terbuka mengakui bahwa dirinya kini memberikan kebebasan taktik yang lebih besar kepada skuad I Rossoneri.
Langkah ini diambil Amorim agar dirinya tidak mengulangi kesalahan fatal yang sama seperti saat masih menukangi Manchester United, di mana ia dinilai terlalu kaku dalam penerapan formasi.
Pendekatan fleksibel ini lahir setelah sang allenatore mulai merasakan tekanan hebat.
Sebelumnya, Milan harus menelan hasil imbang beruntun di Serie A saat melawat ke markas Juventus dan Lazio, disusul kekalahan kandang 0-2 yang menyakitkan dari Benfica di ajang Liga Europa.
Merespons krisis tersebut, Amorim langsung melakukan sejumlah penyesuaian taktik saat Milan menjamu Lecce.
Ia mengubah skema build-up serangan dari belakang menggunakan empat pemain bertahan, alih-alih tiga bek seperti biasanya.
Mario Gila juga diinstruksikan untuk bermain sedikit lebih melebar. Hasilnya, Milan sukses membungkam Lecce dengan skor telak 3-0.
"Saya rasa kami telah banyak berkembang. Kebebasan para pemain, pergerakan, terutama lari di belakang pertahanan, jadi kami bukan hanya tim yang menguasai bola, kami adalah tim yang berbahaya," ungkap Amorim.
Baca Juga: Mitchell Baker Panaskan Persaingan Lini Depan FIFA ASEAN Cup 2026, Bawa Catatan 7 Gol di Amrik
Adaptasi Karakteristik Pemain
Amorim menegaskan bahwa perubahan skema ini murni berasal dari evaluasinya terhadap kondisi tim saat ini.
"Apa yang saya rasakan di pertandingan terakhir sama dengan yang saya rasakan di Manchester United, dan saya tidak boleh membuat kesalahan yang sama," sebutnya.
Terkadang kami tidak memiliki pemain dengan karakteristik yang sempurna untuk bermain seperti itu, dan jika kami tidak memilikinya, kami harus beradaptasi," imbuh pelatih asal Portugal tersebut.
Saat ini, AC Milan memasuki masa jeda internasional dengan raihan 11 poin dari lima pertandingan. I Rossoneri masih tertinggal dua poin dari pemuncak klasemen sementara yang dihuni oleh AS Roma, Inter Milan, dan Lazio.
Amorim menilai jarak poin tersebut masih sangat wajar mengingat tim pesaing seperti Roma dan Inter sudah memiliki pola permainan yang lebih matang karena lebih lama terbentuk.
Ia juga menyoroti performa Milan yang sebenarnya tampil dominan di laga tandang kontra Lazio dan Juventus, meski akhirnya gagal membawa pulang poin penuh.
"Ini adalah sebuah proses. Saya pikir kami seharusnya mendapatkan lebih banyak poin, karena saat melawan Juventus kami hanya terpaut 30 detik dari mendapatkan tiga poin," kata dia.
"Bahkan saat melawan Lazio, jika Anda melihat keseimbangan permainan, saya merasa kami pantas mendapatkan sedikit lebih banyak," sambungnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani