Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Madiun Open Drumband

Hengky Ristanto • Senin, 12 Desember 2022 | 22:59 WIB
Wali Kota Maidi
Wali Kota Maidi
DALAM sepekan kemarin kota kita sukses menggelar dua event besar. Pertama, konser Dewa 19 pada Senin lalu (5/12) dan kedua Parade Nusantara yang merupakan rangkaian Kejurnas Drumband 2022 di Kota Madiun pada Sabtu lalu (10/12).

Ya, kota kita menjadi tuan rumah gelaran kejurnas drumband tahunan itu. Kejurnas sejatinya berisi serangkaian kegiatan lomba. Tentunya kita harus tampil beda dibanding kota lainnya.

Tidak hanya lomba, tapi juga kita gelar Parade Nusantara untuk pertunjukkannya. Parade itu semakin menarik karena kehadiran Drumcorps Pelopor Cenderawasih Akademi Kepolisian (Akpol).

Saya memberangkatkan peserta parade di depan balai kota. Sebelum pemberangkatan juga ada kegiatan menarik yaitu pencatatan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk program pavingisasi di Kota Madiun. Kota kita mencatat rekor Muri atas program pembangunan jalan atau pavingisasi secara serentak di lokasi terbanyak.

Coba bayangkan, kita berhasil menyelesaikan pavingisasi sebanyak 100 titik dengan total panjang 46 ribu meter beserta pemasangan kanstin atau pembatasnya. Pekerjaan sebanyak itu harusnya selesai dengan kurun waktu lima tahun. Namun, kota kita berhasil menyelesaikan dengan waktu dua bulan saja.

Lima tahun selesai dengan waktu hanya dua bulan. Sistem pengerjaannya memang kita ubah. Tidak dikerjakan OPD terkait dengan sistem lelang maupun penunjukan rekanan secara langsung. Melainkan dengan melibatkan masyarakat. Seratus titik itu dikerjakan serentak oleh kelompok masyarakat (pokmas) dari kelurahan masing-masing. Makanya bisa cepat. Dua bulan selesai.

Pemerintah itu biarpun memiliki anggaran tetapi juga memiliki banyak keterbatasan. Banyak hal yang harus dikerjakan. Karenanya, kita terus dituntut untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang. Salah satunya, pembangunan.

Anggaran kita siapkan. Silahan dikerjakan. Pemerintah tinggal mengawasi. Buktinya, hasilnya juga baik. Saya cek langsung berkeliling sambil bersepeda. Itu lingkungan mereka sendiri. Tentunya tidak mau kalah dengan lingkungan sebelah. Makanya, dikerjakan sebaik mungkin.

Pavingnya kita seragamkan tiga dimensi. Bukan hanya di gang besar. Tetapi juga sampai gang kecil. Pokoknya, yang berupa akses jalan umum bisa diusulkan program. Kebanyakan gagal karena yang diusulkan bukan akses jalan umum. Biasanya berstatus tanah pribadi warga. Tentu yang seperti itu tidak bisa.

Pengerjaan seperti itu terbukti baik. Selain meningkatkan partisipasi masyarakat, juga sejalan dengan instruksi presiden terkait intervensi berbasis lokal karena dikerjakan oleh pokmas, anggaran pengerjaan untuk warga sekitar. Bukan jatuh kepada rekanan. Apalagi, rekanan luar daerah.

Intervensi berbasis lokal pada prinsipnya mengedepankan pada kemandirian. Kalau bisa dipenuhi sendiri, mengapa cari yang lain. Kalau bisa dikerjakan sendiri, kenapa dikerjakan orang lain. Biar perputaran uang di tingkat lokal semakin besar. Ekonomi lokal kuat, ekonomi secara besar juga ikut kuat.

Konsep seperti itu akan terus kita lakukan. Tahun depan, ganti urusan kebersihan. Sebenarnya ini sudah berjalan tetapi kita tingkatkan. Tahun ini kita anggarkan Rp 9 juta per RW untuk kebersihan lingkungan. Silakan dibentuk pokmas untuk membersihkan sungai, selokan, dan saluran lain di lingkungan masing-masing.

Pada 2023 mendatang kita tingkatkan jadi Rp 5 juta per RT. Saat ini sedang tahap sosialisasi. Kira-kira apa yang mau dikerjakan. Apa yang mau dibersihkan. Saya harap Februari nanti sudah bisa mulai jalan. Tetapi jangan sampai main-main. Akan saya cek sambil berkeliling. Tentu saja sambil giat bersepeda.

Rekor Muri tersebut bukanlah yang utama. Itu merupakan sebuah pengakuan atas kerja keras kita bersama. Bagi saya, yang terpenting masyarakat terlayani. Khususnya hak atas akses jalan yang layak. Nyaris tidak ada jalan dalam kondisi tidak layak di Kota Madiun.

Sebanyak 98 persen jalan dalam kondisi baik. Sisa dua persen itu merupakan jalan baru yang memang belum selesai pengerjaan. Salah satunya, jalan tembus dari Lapak Manisrejo ke Lapak Banjarejo atau jalan pinggir sungai seperti di Kali Piring. Memang belum diaspal. Nanti kita sentuh pembangunan.

Akses jalan memang penting. Bagaimana orang mau datang kalau akses jalannya susah. Bagaimana orang mau mampir kalau akses jalannya bikin khawatir. Jalan harusnya mempercepat jarak tempuh. Bukan malah memperlambat. Bahkan, membuat celaka pengendara. Karenanya, akses jalan butuh perhatian tersendiri. Apalagi, akan ada banyak event besar di kota kita.

Alhamdulillah, kita sukses menjadi tuan rumah Kejurnas Drumband 2022. Memang belum usai, tetapi setidaknya sudah mulai bisa dilihat. Gelaran Parade Nusantara kemarin, misalnya, sukses menarik animo masyarakat. Banyak yang datang melihat.

Peserta juga datang dari berbagai provinsi di tanah air. Ini sarana promosi yang baik. Semakin banyak yang datang, semakin kota kita dikenal. Merasakan langsung tentu berbeda dengan sekadar melihat dari internet. Apalagi, kota kita sedang berbenah. Sudah banyak perubahan.

Event besar jadi salah satu sarana promosi ke depan. Setelah Kejurnas Drumband ini mungkin akan kita gelar Madiun Open Drumband tingkat Jawa Timur merebutkan piala wali kota. Di kota kita saja ada 36 grup drumband. Bayangkan kalau seluruh Jawa Timur turut ambil bagian.

Ini tentu tidak bisa terwujud tanpa peran kita bersama. Butuh partisipasi masyarakat. Kita buktikan kalau kita tuan rumah yang baik. Kesuksesan kita menggelar event besar bisa jadi pengalaman ke depan. Baik secara keamanan maupun keramahtamahan. Kita bisa dan kita mampu. Demi Kota Madiun yang lebih baik ke depan. Demi kota kita tercinta. Kota Pendekar yang kaya akan karyanya. (Penulis adalah wali Kota Madiun) Editor : Hengky Ristanto
#kota madiun #kejurnas drumband 2022 #event nasional #Wali Kota Maidi #drumband #Pemkot Madiun #ruang satu