PEMBANGUNAN di Kota Madiun sekarang begitu masif ketika Maidi menjabat sebagai Wali Kota Madiun sejak 2019. Selama empat tahun terakhir berbagai fasilitas dibangun. Seperti lapak UMKM di 27 kelurahan, menyulap Jalan Pahlawan menjadi destinasi wisata andalan Kota Madiun dan masih banyak lagi. Berkat pembangunan-pembangunannya, wali kota kelahiran Magetan ini optimistis Kota Madiun akan menjadi barometer pembangunan daerah maju, khususnya di Jatim bagian barat.
Pak Maidi mengingatkan akan sosok Wali Kota Madiun yang lain. Sosok itu bernama Roelof Adriaan Schotman. Dia bukan orang Indonesia. Juga bukan orang Belanda kelahiran Indonesia (Indo-Belanda). Tapi, Schotman merupakan Wali Kota Madiun atau Burgemeester pertama.
Schotman dilantik oleh Residen Madiun Van Den Bos pada 19 November 1928. Perlu diketahui, Stadsgemeente atau Kota Madiun yang didirikan tahun 1918 melalui staatsblad No. 326 belum langsung memiliki pejabat wali kota. Sehingga pucuk pemerintahan dipegang oleh seorang asisten residen.
Schotman adalah orang Belanda kelahiran Utrecht, 1878. Dia memiliki latar belakang seorang pengajar. Sebelum memimpin Kota Madiun, Schotman sempat menjadi pejabat pemerintahan di Batavia dan pernah memimpin Kota Chirebon. Surat kabar Algemeen Handelsblad 11 September 1928, Schotman dinyatakan gagal membangun Kota Chirebon. Sehingga akhirnya di mutasi ke Kota Madiun.
Residen Madiun H.C Van Den Bos dalam memorie van overgave ternyata mengambarkan Schotman adalah sosok pekerja keras, sangat rajin, banyak ide dan inisiatif. Sehingga anggota dewan kadang-kadang harus memperlambat langkahnya. Mungkin sifat inilah yang “menular” ke Pak Maidi yang sekarang sedang rajin dan kerja keras membangun Kota Madiun.
Menjadi pertanyaan adalah apakah anggota dewan sekarang juga “mengerem” ide-ide pembangunan dari Pak Maidi?
Schotman menjabat sebagai Wali Kota Madiun relatif cukup lama. Mulai dari 1928–1933. Pada masa kepemimpinannya, berbagai infrastruktur pemerintahan dan publik dibangun. Di antaranya, Raadhuis atau balai kota. Semula proyek balai kota sempat mangkrak dengan rencana awal pembangunan di sekitar Schoollaan (Jalan Sumatra) pada 1918. Soal tanah mennjadi biang permasalahannya.
Baru setelah Schotman menjabat, proyek balai kota kembali dilanjutkan. Namun, lokasinya dipindahkan ke tempat sekarang ini di Residentlaan (sekarang Jalan Pahlawan). Schotman mengandeng kontraktor asal Batavia Firma Fermont-Cuypers. Pada 30 November 1929 dilakukan peletakan batu pertama oleh Schotman bersama Nyonya Residen Madiun, Van Den Bos. Seharusnya setiap 30 November perlu diadakan peringatan ulang tahun balai kota Madiun.
Setelah peletakan batu pertama, Schotman memberikan pidato singkat. Isinya pengharapan tentang bangunan balai kota sebagai tonggak sejarah dan saksi kemajuan Kota Madiun. Dan, delapan bulan kemudian atau tepatnya 1 Agustus 1930, Balai Kota Madiun diresmikan serta Schotman menjadi wali kota pertama yang berkantor di gedung baru tersebut.
Sehari setelah peresmian balai kota, Schotman kembali meresmikan pembangunan schouwburg atau gedung pertunjukan. Dalam Soerabaijasch Handelsblad 5 Agustus 1930, Schotman berterima kasih kepada almarhumah Nyonya Manuel yang telah menwariskan dan mewakafkan tanah tempat tinggalnya untuk dibangun gedung pertunjukan.
Schouwburg yang kemudian dikenal dengan city theater atau dulunya Bioskop Lawu bisa dibilang paling megah di Jawa saat itu. Bahkan, gedung tersebut sempat menjadi saksi pementasan pertama wayang suluh di masa perjuangan kemerdekaan RI.
Namun demikian, nasib Bioskop Lawu tidak sama dengan balai kota. Sekitar 1990-an, bangunan itu dirubuhkan dan diganti menjadi pusat perbelanjaan. Padahal gedung tersebut merupakan amanah dari Nyonya Manuel yang diberikan kepada Pemkot Madiun demi memajukan kesenian.
Seorang insinyur dan arsitek terkemuka saat itu Ir. Thomas Karsten dikontrak oleh Schotman sebagai adviseur (penasehat) tata Kota Madiun dari 1929–1930.
Salah satu usulan Thomas Karsten adalah pembangunan ruas jalan baru yang menghubungkan Celebesstraat (sekarang Jalan Sulawesi) dengan Madoerastraat (sekarang Jalan Panglima Sudirman). Jalan tersebut selesai pengerjaannya pada 1930. Dan, diberi nama Van Den Boslaan (sekarang Jalan Dr. Cipto).
Menurut Hudiyanto (2003), tujuan pembangunan jalan tersebut adalah untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Madoerastraat serta untuk kebutuhan pembangunan perumahan baru. Di tahun yang sama ruas jalan baru juga dibangun di samping balai kota.
Jalan itu dibangun sebagai dampak pembangunan balai kota, sehingga dinamakan Raadhuislaan (Sekarang Jalan Perintis Kemerdekaan).
Sama seperti Van Den Boslaan, jalan itu juga dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan baru. Entah kebetulan apa tidak, era Pak Maidi juga membangun ruas-ruas jalan baru. Tujuan utama pembangunan jalan tersebut sebagai akses menuju lapak UMKM yang sekaligus menjadi destinasi wisata baru Kota Madiun.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Schotman memang sosok pekerja keras. Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 31 Juli 1931, Schotman dipuji sebagai wali kota praktis yang berhasil membangun Kota Madiun dan dianggap layak untuk memimpin sebuah kota besar. Pada 1933, Schotman resmi pensiun dari jabatannya sebagai Wali Kota Madiun. Setelah itu dia tidak di birokrasi lagi melainkan fokus ke perkumpulan botani.
Warisan pembangunan di era schotman memang tidak banyak. Namun, warisannya menjadi obyek vital bagi Kota Madiun. Mungkin kita bisa merelakan warisan yang telah menjadi pusat perbelanjaan, tetapi kita jangan sampai kehilangan warisan pembangunan dari wali kota lain setelah Schotman.
Terakhir, lambang Kota Madiun merupakan warisan Schotman dalam bentuk non-fisik yang disahkan tahun 1931. Pada lambang tersebut tertulis semboyan “Montes Prosperi Tatem Vident”. Artinya kurang lebih adalah “gunung-gunung menjadi saksi akan kemakmurannya”. Tidak hanya gunung-gunung, sekarang infrastruktur yang dibangun juga akan saksi dan membantu kemajuan Kota Madiun. (*)
Pegiat Sejarah dan Anggota Kompas Madya *) Editor : Hengky Ristanto