Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Pemimpin dan Penguasa

Hengky Ristanto • Sabtu, 10 Februari 2024 | 20:45 WIB

Oleh: Geza Bayu Santoso *)

Photo
Photo

MARI kita masuk pada perdebatan pemimpin dan penguasa. Dua kata ini jadi renungan awal sebelum teman-teman Komunitas Gus Durian Jogja membahas esai Gus Dur berjudul “Berkuasa dan Harus Memimpin”.

Kami mengulik pikiran GD tentang kekuasaan dan politik. Semuanya berawal dari satu pertanyaan. “Apa perbedaan penguasa dan pemimpin?”

Mayoritas peserta menjawab bahwa pemimpin dan penguasa adalah dua hal yang berbeda. Pemimpin adalah mereka yang menjalankan tugas-tugas kepemimpinan sesuai prosedur, sedangkan penguasa adalah mereka yang mengatur prosedur dengan mengesampingkan kepentingan rakyat dalam proses pembuatannya.

Penguasa hanya memikirkan bagaimana cara  mempertahankan akses demi kepentingan golongan tertentu.

Penguasa adalah tokoh utama yang menyebabkan penderitaan hidup hadir, kesenjangan makin tinggi, dan kebengisan sosial makin banyak. Namun, saat saya ditanya pertanyaan yang sama.

Diri ini mencoba untuk sedikit berbeda. Saya yakin bahwa pemimpin dan penguasa adalah satu kesatuan, pemimpin adalah penguasa, dan begitu juga sebaliknya.

Saya coba untuk tidak mengkotak-kotakkan pemimpin dan penguasa, mereka berdua adalah golongan manusia yang sama, ada dalam satu tubuh manusia.

Setiap pemimpin artinya punya kuasa dan tiap penguasa juga punya tugas kepemimpinan. Dan ternyata pemahaman sok-sokan ini tak senada dengan GD. Heuheu.

“Kehidupan kita yang kering-kerontang ini sekarang hanya dipenuhi oleh kegiatan untuk mempertahankan kekuasaan, bukannya untuk mencapai kepemimpinan yang diharapkan,” tulis Gus Dur.

Esai ini berhasil menampar penulis bahwa kekuasaan dan kepemimpinan adalah dua hal yang tak bisa disamakan. Kepemimpinan jauh lebih tinggi posisinya ketimbang penguasa, setidaknya dalam segi etika/moral.

“Kekuasaan disamakan dengan kepemimpinan, dan kedua hal tersebut tidak lagi mengindahkan aspek moral/etika dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Pantaslah jika kita sekarang seolah-olah tidak memiliki kepemimpinan dan para pemimpin. Karena kita sudah kehilangan aspek moral dan etika tersebut. Kepemimpinan kita saat ini, sebagai bangsa, hanya dipenuhi oleh basa-basi (etiket) yang tidak memberikan jaminan apa-apa kepada kita sebagai bangsa,” lanjut Gus Dur. (*)

 

*) Penulis merupakan Pengurus Cabang IPNU Kabupaten Madiun

Editor : Hengky Ristanto
#gus durian #Gus Dur