HARI bersejarah bagi kemerdekaan bangsa Indonesia, kemarin dibacakan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ibu kota yang baru namun telah diperjuangkan sejak lama. Dan kita semuanya sekarang menjadi saksi kepindahan ibu kota ke IKN dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke -79 tanggal 17 Agustus 2024.
Dalam upacara detik-detik proklamasi, pasti dibacakan teks proklamasi yang sangat bersejarah itu. Kalimat yang sangat pendek, penuh makna namun akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa, Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Sayangnya, sedikit yang mengetahui bagaimana detik-detik penulisan teks proklamasi itu. Untuk jelasnya sekaligus meluruskan sejarah, sengaja saya mengutip buku Muhammad Hatta yang berjudul “Menuju Gerbang Kemerdekaan” Jilid 3:
“Setelah kami sampai di rumah Maeda, yang jaraknya kurang dari lima menit dengan oto dari rumah Sumobuco (maksudnya Kepala Pemerintahan Umum Mayor Jenderal Otoshi Nishimura), kelihatan Maeda geleng-geleng kepala. Tuan Miyoshi tetap menyertai kami. Kami lihat sudah lengkap hadir anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda, beberapa pemimpin pergerakan, dan anggota-anggota Cuo Sangi In yang ada di Jakarta. Semuanya ada kira-kira 40 atau 50 orang-orang terkemuka. Di jalan banyak pemuda yang menonton atau menunggu hasil pembicaraan.
Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Sukarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuri Melik. Kami duduk sekitar sebuah meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.
Sukarno berkata,”Aku persilahkan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Aku menjawab, ”Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.”
Semuanya setuju kalimat pertama diambil dari akhir alinea ketiga rencana Pembukaan UUD yang mengenai Proklamasi. Lalu, kalimat pertama itu menjadi,”Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Namun, aku mengatakan, kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasib sendiri.
Sebab itu, mesti ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu, aku mendiktekan kalimat yang berikut,”Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”Setelah bertukar pikiran sebentar, teks itu disetujui oleh kami berlima yang menjadi panitia kecil.
Setelah kerja kami selesai, kami masuk ke ruang tengah rumah, di mana yang bersangkutan sudah menunggu. Sidang itu bukanlah lagi sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia semata-mata. Seperti dikatakan tadi, sudah bertambah dengan pemimpin-pemimpin pemuda serta pemimpin rakyat dan anggota Cuo Sang In yang berada di Jakarta.
Sukarno mulai membuka sidang dan membacakan rumus pernyataan kemerdekaan yang dibuat tadi, perlahan-lahan dan berulang-ulang. Sesudah itu ia bertanya kepada yang hadir,”Dapatkah ini saudara-saudara setujui?” Gemuruh suara menyatakan setuju. Diulang oleh Sukarno,”Benar-benar saudara semua setuju?”
“Setuju,” kata yang hadir semuanya. Kukira tidak ada yang tidak setuju. Sesudah itu aku bicara dan mengemukakan, “Kalau saudara semua setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka ini sebagai suatu dokumen yang bersejarah. Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Ambillah contoh kepada naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dahulu. Semuanya yang memutuskan ikut menandatangani keputusan mereka bersama.”
Sejenak rapat diam dan tidak terdengar suatu diskusi apa pun tentang yang kuusulkan itu. Tidak lama sesudah itu Soekarni maju ke muka, menyatakan dengan suara lantang,”Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.”
Ucapan itu disambut oleh seluruh yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka berseri-seri. Aku merasa kecewa karena kuharapkan mereka serta menandatangani suatu dokumen yang bersejarah, yang mengandung nama mereka untuk kebanggaan anak cucu di kemudian hari. Akan tetapi, apa yang akan dikata?
Sebelum rapat ditutup, Sukarno memperingatkan bahwa pada hari itu juga, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00, proklamasi itu akan dibacakan di muka rakyat di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56.
Maka, sidang yang bersejarah itu berakhirlah kira-kira pukul 03.00 dinihari tanggal 17 Agustus 1945. Maeda meninggalkan kamar tidurnya dan turun ke bawah beserta pembantu-pembantunya, seperti Nashijima dan beberapa orang lain. Mereka memberikan selamat kepada kami atas hasil yang kami capai.
Tuan Miyoshi telah lebih dahulu pulang ke rumahnya ketika kami pindah ke ruang tengah. Akan tetapi, ia sudah tahu bahwa rapat larut malam itu akan mengesahkan teks Proklamasi yang dibuat, yang dilihatnya dari dekat.
Sebelum kami pulang semuanya, aku berpesan kepada beberapa pemuda yang masuk golongan pers, terutama Burhanuddin Diah,”Saudara-saudara sehari-harinya sudah bekerja keras, tetapi saudara harus meneruskan pula dengan giat pekerjaan baru, yaitu memperbanyak teks Proklamasi itu dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia sedapat-dapatnya. Saudara yang bekerja di Kantor Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita Proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai.”
Kira-kira pukul 10.00 kurang 10 menit aku berangkat dari rumah dan lima menit sebelum pukul 10.00 aku sudah berada di sana. Orang tahu bahwa aku selalu tepat dengan waktu. Sebab itu, tidak ada orang yang gelisah bahwa aku akan terlambat datang. Sukarno pun tidak khawatir, karena ia tahu kebiasaanku.
Setelah Proklamasi dibacakan dan bendera nasional Sang Saka Merah Putih dinaikkan sebagai tanda bangsa Indonesia sudah merdeka, bernegara, dan berdaulat, serta lagu “Indonesia Raya” dinyayikan, rakyat bersorak dan gembira.
Kami duduk sebentar kira-kira setengah jam. Sesudah itu aku pulang ke rumah. Di rumah sudah menunggu sanak saudaraku yang berpencar tinggalnya di Jakarta. Semuanya terharu dan memberi selamat Indonesia merdeka.
Dirgahayu Republik Indonesia
Ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan kepada pembaca, sekitar sejarah Teks Proklamasi: Pertama, ketika Bung Hatta mengusulkan agar semua yang hadir ikut menandatangani teks proklamasi meniru proklamasi di Amerika Serikat yang ditandatangani yang hadir.
Kemudian pemuda Soekarni mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani atas nama rakyat Indonesia dan disambut gembira yang hadir. Alasan Soekarni (menurut BM Diah yang ikut menjadi saksi peristiwa itu yang mengusulkan adalah Chairul Saleh bukan Soekarni) mengusulkan masukan itu, ia melihat bahwa yang hadir ada yang dulunya kaki-tangan Belanda dan Jepang.
Kedua, BM Diah atau lengkapnya Burhanuddin Diah yang menyelamatkan konsep tulisan tangan teks proklamasi yang ada coretan-coretannya itu. Ia melihat, setelah teks proklamasi selesai diketik kemudian konsep dibuang begitu saja.
BM Diah tahu, kemudian diambil dan disimpanlah konsep tulisan tangan teks proklamasi itu. Dari konsep teks proklamasi itulah BM Diah saat itu juga memperbanyak dengan membuat selebaran dan dibagikan saat itu juga. (*)
*) Penulis adalah Mantan Bupati Magetan dan juga eks-Sekjen Kemenkominfo
Editor : Hengky Ristanto