Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Khotbah Berbahasa Jawa di Gereja

Hengky Ristanto • Minggu, 22 Desember 2024 | 21:45 WIB
Tulus Setiyadi
Tulus Setiyadi

 

SEBENTAR lagi umat Kristiani akan menyambut hari yang mulia, yaitu Kelahiran Yesus Kristus. Semarak dalam menyambut hari Natal akan disambut dengan suka cita oleh para penganutnya. Ternyata khutbah-khotbah di gereja selain mempunyai fungsi ritual juga sebagai konservasi perkembangan bahasa daerah (khususnya Bahasa Jawa).

Gereja Katolik diperkenalkan di Indonesia oleh pedagang Portugis dan Belanda. Sebagai agama misioner, misi Gereja dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Satu di antaranya pendekatan kultural yang dipraktikkan oleh Pastor Van Lith (1863-1926) dengan memanfaatkan bahasa dan budaya Jawa untuk memperkenalkan ajaran Kristiani.

Hal tersebut tampak pada film dokumenter Betlehem van Jawa yang menunjukkan upaya Van Lith mempelajari seni dan budaya Jawa, seperti bermain gamelan, menyaksikan pertunjukan wayang kulit, dan menerjemahkan doa dan buku pelajaran agama Katolik dari bahasa Latin ke bahasa Jawa.

Penggunaan bahasa pribumi dalam upacara keagamaan tersebut dilegitimasi pusat Gereja Katolik Roma dalam Dokumen Konsili Vatikan II (1962-1965) mengenai Konstitusi “Sacrosanctum Concilium” tentang Liturgi Suci.

Ihwal penggunaan bahasa pribumi yang melegitimasi penggunaan bahasa pribumi untuk kepentingan ibadat. Salah satu bagian ibadat yang berisi pengajaran adalah “Liturgi Sabda” berupa pembacaan kitab suci, kemudian diikuti khotbah oleh pastor yang memimpin ibadat. (Macariyus S, 2011).

Upacara ritual keagamaan merupakan salah satu forum penggunaan bahasa yang bergengsi. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Jawa dalam upacara ritual tersebut meningkatkan gengsi bahasa Jawa yang memberi penguatan penggunaan bahasa Jawa di masyarakat. Isi khotbah merupakan media pewarisan keutamaan yang lazimnya disesuaikan dengan tema ibadat yang sudah dirancang untuk peribadatan.

Bahasa Jawa selain sarana komunikasi yang baik juga sebagai media penyebaran sebuah ajaran. Pendekatan-pendekatan budaya termasuk di dalamnya Bahasa Jawa yang dilakukan pihak gereja sangat efektif menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Dengan demikian Gereja secara langsung naupun tidak langsung ikut andil dalam menjaga kelestarian Bahasa Jawa di dalam menghadapi perkembangan jaman yang semakin maju. Kekuatan isi khotbah (piwulang) dengan menggunakan Bahasa Jawa seperti tumbu oleh tutup. Keduanya sama-sama mengajarkan nilai-nilai etika yang baik.

Pembangunan moralitas serta penghargaan norma-norma yang berlaku akan bejalan bersama. Agama yang merupakan pitutur luhur akan berjalan bersama melalui norma yang berlaku. Penulis berharap khutbah-khotbah Natal nanti juga berharap mengangkat kearifan budaya daerah sebagai sahabat dalam menjalankan ajaran suci.

Menurut Macariyus bahwa di dalam tradisi Katolik pengembangan dan penguatan bahasa Jawa terwujud melalui penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar upacara-upacara ritual keagamaan. Hal tersebut telah diikuti penerjemahan kitab suci, doa-doa, buku pelajaran agama Katolik, nyanyian, dan buku-buku upacara keagamaan.

Penguatan bahasa Jawa melalui kegiatan keagamaan memiliki kemungkinan melalui seni pertunjukan yang menggunakan medium bahasa Jawa, seperti pembacaan gurit untuk mendukung upacara ritual keagamaan atau dalam bentuk pentas seni yang berkaitan dengan peringatan hari besar keagamaan. (*)

 

*) Penulis merupakan sastrawan asal Madiun

 

Editor : Hengky Ristanto
#khotbah #umat kristiani #natal #Kelahiran Yesus Kristus #bahasa jawa #gereja